Langkah monumental diambil RS Bhayangkara Kediri dalam memperkuat sistem identifikasi korban bencana maupun tindak kriminal. Rumah sakit milik institusi kepolisian ini resmi menjalin kerja sama strategis dengan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata (IIK Bhakta), guna menerapkan standar internasional dalam pengisian odontogram—diagram gigi dan jaringan mulut—sebagai instrumen penting dalam forensik.
“Masyarakat masih belum sepenuhnya menyadari betapa vitalnya data gigi yang terekam dengan baik. Ini bukan hanya soal rekam medis elektronik, tetapi juga kunci dalam mengungkap identitas korban pada situasi darurat, baik dalam bencana massal maupun tindak kejahatan,” ujar Kombes Pol Agung Hadi dengan tegas.
Agung mencontohkan peristiwa tragis runtuhnya musala di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo, yang menelan puluhan korban jiwa. Dalam insiden tersebut, data odontogram menjadi penentu dalam proses identifikasi. Hal serupa terjadi saat jatuhnya helikopter di Kalimantan Selatan yang menewaskan tiga warga negara asing. Proses identifikasi berlangsung cepat berkat tersedianya data odontogram dari negara asal korban, berbanding terbalik dengan lambatnya identifikasi WNI yang tidak memiliki rekam gigi lengkap.
Kerja sama ini juga ditujukan untuk mengedukasi para dokter gigi agar konsisten merekam odontogram dalam data medis pasien secara lengkap dan seragam sesuai pedoman DVI. Menurut Agung, hal ini akan memperkuat basis data ante mortem yang sangat krusial dalam pencocokan dengan data post mortem saat identifikasi dilakukan.
Sementara itu, Dekan FKG IIK Bhakta, drg. Puspa Dila Rohmaniar, M.Kes, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan tindak lanjut konkret dari nota kesepahaman yang telah terjalin sebelumnya. Fokus utamanya adalah peningkatan kapasitas dan standarisasi pengisian odontogram dalam ranah pendidikan dan praktik klinis.
“Kami akan menyelenggarakan pelatihan dan evaluasi berkala bagi mahasiswa koas maupun dokter gigi yang sudah praktik. Target awal kami adalah para dokter gigi di wilayah Kediri, yang kemudian akan diperluas secara bertahap hingga menjadi program nasional,” jelas drg. Puspa.
Ia menambahkan, meskipun kewajiban pengisian odontogram telah lama ditetapkan, praktiknya masih bervariasi dan belum memenuhi standar forensik internasional. Melalui pelatihan ini, diharapkan semua tenaga medis gigi dapat mengisi odontogram secara seragam, akurat, dan siap digunakan dalam situasi darurat kapan pun diperlukan.
Inisiatif luar biasa ini menandai babak baru dalam sinergi antara institusi medis dan kepolisian dalam misi kemanusiaan. Tak hanya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan gigi, tetapi juga memperkokoh kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi situasi darurat yang membutuhkan identifikasi korban secara cepat dan tepat
Bhayangkara Kediri dalam memperkuat sistem identifikasi korban bencana maupun tindak kriminal. Rumah sakit milik institusi kepolisian ini resmi menjalin kerja sama strategis dengan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata (IIK Bhakta), guna menerapkan standar internasional dalam pengisian odontogram—diagram gigi dan jaringan mulut—sebagai instrumen penting dalam forensik.
Penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan langsung oleh Kepala RS Bhayangkara, Kombes Pol drg. Agung Hadi Wijanarko, Sp.BM., MARS., C.M.C., QHIA, bersama jajaran pimpinan FKG dan RSGM IIK Bhakta. Kolaborasi ini mencakup pelatihan teknis pengisian odontogram sesuai standar Disaster Victim Identification (DVI) yang ditetapkan Interpol, serta praktik langsung bagi mahasiswa kedokteran gigi dalam bidang odontologi forensik.
“Masyarakat masih belum sepenuhnya menyadari betapa vitalnya data gigi yang terekam dengan baik. Ini bukan hanya soal rekam medis elektronik, tetapi juga kunci dalam mengungkap identitas korban pada situasi darurat, baik dalam bencana massal maupun tindak kejahatan,” ujar Kombes Pol Agung Hadi dengan tegas.
Agung mencontohkan peristiwa tragis runtuhnya musala di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo, yang menelan puluhan korban jiwa. Dalam insiden tersebut, data odontogram menjadi penentu dalam proses identifikasi. Hal serupa terjadi saat jatuhnya helikopter di Kalimantan Selatan yang menewaskan tiga warga negara asing. Proses identifikasi berlangsung cepat berkat tersedianya data odontogram dari negara asal korban, berbanding terbalik dengan lambatnya identifikasi WNI yang tidak memiliki rekam gigi lengkap.
Kerja sama ini juga ditujukan untuk mengedukasi para dokter gigi agar konsisten merekam odontogram dalam data medis pasien secara lengkap dan seragam sesuai pedoman DVI. Menurut Agung, hal ini akan memperkuat basis data ante mortem yang sangat krusial dalam pencocokan dengan data post mortem saat identifikasi dilakukan.
Sementara itu, Dekan FKG IIK Bhakta, drg. Puspa Dila Rohmaniar, M.Kes, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan tindak lanjut konkret dari nota kesepahaman yang telah terjalin sebelumnya. Fokus utamanya adalah peningkatan kapasitas dan standarisasi pengisian odontogram dalam ranah pendidikan dan praktik klinis.
“Kami akan menyelenggarakan pelatihan dan evaluasi berkala bagi mahasiswa koas maupun dokter gigi yang sudah praktik. Target awal kami adalah para dokter gigi di wilayah Kediri, yang kemudian akan diperluas secara bertahap hingga menjadi program nasional,” jelas drg. Puspa.
Ia menambahkan, meskipun kewajiban pengisian odontogram telah lama ditetapkan, praktiknya masih bervariasi dan belum memenuhi standar forensik internasional. Melalui pelatihan ini, diharapkan semua tenaga medis gigi dapat mengisi odontogram secara seragam, akurat, dan siap digunakan dalam situasi darurat kapan pun diperlukan.
Inisiatif luar biasa ini menandai babak baru dalam sinergi antara institusi medis dan kepolisian dalam misi kemanusiaan. Tak hanya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan gigi, tetapi juga memperkokoh kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi situasi darurat yang membutuhkan identifikasi korban secara cepat dan tepat
(Abad⁷⁷)


0Komentar