Hairul Rasyid: Pamnas Bonsai 2026 Pamekasan Jadi Momentum Kebangkitan Bonsai Jawa Timur di Panggung Nasional
![]() |
| Yayat Hidayat (Ketua Bidang Penjurian, bersama juri Pamnas PPBI Pamekasan) Foto.Dok.Abadi.Bonsai) |
PAMEKASAN |masbhabinnews.com
Dari ketekunan merawat kehidupan, lahir karya seni yang menyatukan keindahan alam, ketajaman imajinasi, dan kematangan rasa. Semangat itulah yang mewarnai Pameran Bonsai Nasional (Pamnas) Persatuan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) 2026 di Kabupaten Pamekasan, yang menghadirkan momentum bersejarah melalui penyelenggaraan Kelas Bintang untuk pertama kalinya di Pulau Madura.
Mengusung tema “Madura Menantang Para Bintang”, ini menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Pamekasan ke 496. Lebih dari sebuah kompetisi seni tanaman, kegiatan tersebut merepresentasikan perkembangan komunitas bonsai sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Ratusan pegiat, kolektor, dan pencinta bonsai dari berbagai daerah di Indonesia hadir untuk menampilkan karya terbaik mereka. Kehadiran peserta lintas wilayah itu mempertegas posisi Pamnas sebagai ruang apresiasi, pertukaran pengetahuan, serta penguatan jejaring antarpenggiat seni bonsai di tingkat nasional.
Hairul Rasyid: Pamnas Menjadi Ruang Pembuktian Kualitas dan Potensi Bonsai Jawa Timur
Sekretaris Wilayah PPBI Jawa Timur, Hairul Rasyid, menilai penyelenggaraan Pamnas 2026 di Pamekasan memiliki arti strategis bagi perkembangan bonsai di Jawa Timur.
Menurutnya, kehadiran kelas tertinggi dalam kompetisi bonsai nasional tersebut merupakan momentum penting untuk menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki potensi, karakter, dan sumber daya yang mampu bersaing dalam peta perkembangan bonsai Indonesia.
“Pameran bonsai nasional ini bukan hanya tentang memperebutkan penghargaan, melainkan juga tentang membangun standar kualitas, memperluas wawasan, serta mempertemukan kreativitas para pegiat bonsai dari berbagai daerah. Penyelenggaraan Kelas Bintang untuk pertama kalinya di Madura menjadi tonggak penting yang patut dibanggakan sekaligus tantangan untuk terus meningkatkan kualitas karya,” ujar Hairul Rasyid.
Ia menegaskan, kemajuan bonsai membutuhkan perpaduan antara ketekunan, pengetahuan teknis, kepekaan artistik, dan konsistensi dalam proses pembentukan. Bonsai tidak terbentuk dalam waktu singkat, melainkan melalui perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, ketelitian, serta kemampuan membaca karakter alami tanaman.
Hairul juga memandang Pamnas sebagai peluang untuk mempertemukan seni dengan aktivitas ekonomi produktif. Menurutnya, ekosistem bonsai memiliki keterkaitan dengan usaha pembibitan, penyediaan bahan tanaman, pot, media tanam, perlengkapan perawatan, hingga jasa pembentukan dan pemasaran karya.
“Ketika potensi lokal dikelola secara profesional dan dipertemukan dengan jaringan pasar yang lebih luas, bonsai dapat menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang bernilai. Kami berharap momentum ini mendorong lahirnya lebih banyak pelaku usaha, memperkuat regenerasi pegiat bonsai, serta membawa nama Jawa Timur semakin diperhitungkan di tingkat nasional,” tambahnya.
625 Peserta, Kelas Bintang Menjadi Daya Tarik Utama
Ketua panitia pelaksana Pamnas Bonsai 2026, Firdaus Andriansyah, sebelumnya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti sekitar 625 peserta dari berbagai daerah, di antaranya Lamongan, Gresik, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Bali, Jakarta, Tangerang, Semarang, hingga Jawa Barat.
Kompetisi menghadirkan sejumlah kelas, mulai dari Prospek atau Bahan, Pratama, Madya, Utama, hingga Kelas Bintang sebagai jenjang tertinggi dalam penyelenggaraan tersebut.
Kelas Bintang menjadi salah satu daya tarik utama karena untuk pertama kalinya digelar di Madura. Kehadirannya sekaligus memberikan ruang bagi kolektor dan pegiat bonsai untuk menguji kualitas karya berdasarkan standar penilaian yang lebih kompetitif.
Firdaus menjelaskan bahwa pemilihan tema “Madura Menantang Para Bintang” didasarkan pada meningkatnya ketertarikan masyarakat Pamekasan terhadap bonsai. Minat tersebut terlihat dari keterlibatan pehobi, kolektor, serta kalangan pengusaha yang mulai menjadikan bonsai sebagai bagian dari aktivitas seni dan investasi koleksi.
Ia berharap kegiatan ini mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, terutama melalui pertumbuhan UMKM dan pengembangan industri kreatif yang berhubungan dengan bonsai.
Yayat Hidayat, Ketua Bidang Penjurian PPBI Pusat, Tekankan Profesionalisme Penilaian Bonsai
Yayat Hidayat, yang akrab disapa Ujang, selaku Ketua Bidang Penjurian PPBI Pusat, turut melaksanakan tugas penjurian dalam Pameran Bonsai Nasional (Pamnas) PPBI 2026 di Pamekasan. Perannya menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas, objektivitas, dan kredibilitas kompetisi bonsai tingkat nasional.
Menurutnya, penjurian bonsai membutuhkan ketelitian, pengalaman, serta pemahaman mendalam terhadap karakter dan nilai artistik setiap karya, dengan mempertimbangkan gerak dasar pohon, keseimbangan, proporsi, keselarasan, serta kematangan pembentukan.
“Penjurian bonsai bukan hanya tentang menentukan peringkat atau mencari pemenang, tetapi juga menjaga objektivitas, menghargai proses kreatif, dan mendorong peningkatan kualitas karya. Melalui standar penilaian yang profesional, kita berharap seni bonsai Indonesia semakin berkembang dan mampu menunjukkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional,” ungkap Yayat Hidayat.
Wakil Ketua Umum PPBI Pusat: Bonsai Menghubungkan Seni dan Ekonomi Kreatif
Wakil Ketua Umum PPBI Pusat, Nana Suryana, menyampaikan bahwa PPBI telah berkembang dan hadir di 262 kabupaten dan kota di Indonesia. Perkembangan tersebut menunjukkan besarnya ruang pertumbuhan komunitas bonsai sebagai wadah berkesenian, membangun persaudaraan, dan memperluas kolaborasi lintas daerah.
Dalam penyelenggaraan Pamnas di Pamekasan, Nana menyebut peserta datang dari berbagai wilayah di Pulau Jawa dan Bali. Kehadiran mereka tidak hanya memberikan nilai tambah bagi kegiatan pameran, tetapi juga berpotensi menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.
Menurutnya, kegiatan berskala nasional dapat memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor usaha, mulai dari perdagangan bahan bonsai, kuliner, transportasi, hingga penginapan. Aktivitas transaksi antarpenggiat juga membuka peluang pemasaran produk lokal kepada kolektor dari luar daerah.
“Peserta dari luar daerah tentu membutuhkan tempat makan, penginapan, dan berbagai kebutuhan selama mengikuti kegiatan. Selain itu, banyak pegiat bonsai yang mencari serta membeli bahan bonsai langsung dari Pamekasan. Ini memperlihatkan bahwa kegiatan bonsai memiliki hubungan nyata dengan perputaran ekonomi masyarakat,” ungkap Nana.
Ia menegaskan, bonsai merupakan bagian dari ekonomi kreatif yang bertumpu pada kemampuan manusia mengolah potensi alam menjadi karya bernilai tinggi. Tanaman yang pada awalnya terlihat biasa dapat berkembang menjadi karya seni istimewa melalui keterampilan, pengalaman, dan imajinasi seorang pembentuk bonsai.
“Bonsai adalah ekonomi kreatif. Sesuatu yang terlihat biasa dapat memiliki nilai tinggi ketika dikelola dengan tangan terampil dan imajinasi yang kuat. Karena itu, pengembangan bonsai perlu didukung oleh peningkatan kualitas, pertukaran pengetahuan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak,” tegasnya.
Penilaian Bonsai Mengutamakan Karakter, Keseimbangan, dan Keselarasan
Nana menjelaskan bahwa penilaian bonsai dilakukan berdasarkan sejumlah aspek mendasar yang berkaitan dengan karakter alami tanaman dan kualitas pembentukannya.
Aspek tersebut meliputi gerak dasar pohon, keseimbangan, keserasian, penampilan keseluruhan, serta kualitas struktur batang, dahan, cabang, ranting, hingga percabangan halus atau cucu ranting.
Setiap unsur harus membentuk kesatuan visual yang harmonis. Kualitas bonsai tidak hanya ditentukan oleh ukuran atau usia tanaman, tetapi juga oleh karakter, proporsi, kematangan struktur, dan kemampuan menghadirkan nilai artistik tanpa menghilangkan kesan alami.
Menurut Nana, perkembangan bonsai di Madura menunjukkan tren yang menggembirakan. Keempat kabupaten di Pulau Madura memiliki potensi melahirkan karya berkarakter yang mampu bersaing dalam kompetisi tingkat nasional.
Antusiasme pegiat dan kolektor di Pamekasan juga menjadi modal penting untuk memperkuat posisi daerah tersebut sebagai salah satu pusat pertumbuhan komunitas bonsai di kawasan timur Jawa.
Bupati Hadir, Pamnas Warnai Hari Jadi Pamekasan ke 496
Bupati Pamekasan, KH. Kholilurrahman, turut hadir dalam penyelenggaraan Pamnas Bonsai 2026 yang menjadi bagian pembuka rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Pamekasan ke 496.
Kehadiran kepala daerah tersebut menjadi bagian dari momentum kebersamaan antara komunitas bonsai dan masyarakat dalam menyemarakkan agenda daerah yang mempertemukan seni, budaya, kreativitas, dan potensi ekonomi lokal.
Penyelenggaraan pameran nasional ini sekaligus memperlihatkan bahwa kegiatan komunitas dapat berkembang menjadi ruang promosi daerah apabila dikelola secara konsisten, profesional, dan melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Bagi Pamekasan, kehadiran ratusan pegiat bonsai dari berbagai wilayah membuka kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerah kepada pengunjung, memperluas jaringan usaha, serta mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi selama kegiatan berlangsung.
Dari Keindahan Tanaman Menuju Masa Depan Ekonomi Kreatif
Pamnas Bonsai 2026 memperlihatkan bahwa seni bonsai memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada kompetisi dan penghargaan. Di dalamnya terdapat proses pembelajaran, pelestarian pengetahuan, penguatan persaudaraan, pengembangan keterampilan, serta peluang ekonomi yang dapat tumbuh melalui kreativitas masyarakat.
Keberhasilan penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan menjadi pijakan bagi pengembangan agenda bonsai berskala nasional secara berkelanjutan di Madura. Dukungan komunitas, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk menjaga kesinambungan perkembangan tersebut.
Bagi Hairul Rasyid, momentum Pamnas di Pamekasan harus dimaknai sebagai awal dari langkah yang lebih besar: membangun ekosistem bonsai yang berkualitas, produktif, dan memiliki daya saing.
Sebab, di balik setiap bonsai yang memikat, terdapat waktu yang panjang, kesabaran yang teruji, dan imajinasi yang terus bertumbuh. Dari tangan para perawatnya, tanaman tidak hanya menemukan bentuk terbaiknya, tetapi juga menghadirkan peluang ekonomi, mempererat persaudaraan, serta mengangkat potensi daerah ke panggung nasional.
|Abadi Bonsai







