Tegas, Cermat, dan Tak Kenal Lelah, Kombes Arsal Sahban Pimpin Perburuan Aset PT DSI Hingga Solo Raya
SUKOHARJO |masbhabinnews.com
Upaya mengungkap dan memulihkan aset yang berkaitan dengan perkara dugaan penipuan dan penggelapan dana PT Dana Syariah Indonesia (PT DSI) terus menunjukkan perkembangan signifikan. Bareskrim Polri menegaskan tidak akan menghentikan penelusuran, sekalipun aset diduga telah dialihkan, disamarkan, atau dicatatkan atas nama pihak lain.
Terbaru, Subdirektorat II/Perbankan Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menyita 103 objek tanah dan bangunan di Perumahan D’Trosemi, Desa Trosemi, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (28/10/2026). Total nilai aset tersebut diperkirakan mencapai Rp10,23 miliar.
Objek yang disita meliputi 86 bidang tanah kavling dengan luas keseluruhan 7.343 meter persegi serta 17 unit rumah yang berdiri di atas lahan seluas 1.200 meter persegi. Seluruh aset tersebut tercatat dalam sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) atas nama PT Multiguna Cipta Mandiri (MCM), perusahaan milik Taufiq Aljufri, Direktur Utama PT DSI.
Penyitaan dilaksanakan berdasarkan penetapan izin penyitaan Pengadilan Negeri Sukoharjo Nomor 309/PenPid.B-SITA/2026/PN Skh tertanggal 13 Oktober 2026. Tindakan hukum tersebut merupakan bagian dari penyidikan klaster keempat yang secara khusus mengarah pada pertanggungjawaban PT DSI sebagai korporasi.
Terungkapnya aset di Sukoharjo merupakan hasil pengembangan penelusuran yang dilakukan Bareskrim Polri bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Data awal dari OJK ditindaklanjuti melalui verifikasi langsung kepada Kantor Pertanahan (BPN) Kabupaten Sukoharjo untuk memastikan status dan keterkaitan kepemilikan aset.
Dalam pelaksanaannya, penyidik juga berkoordinasi dengan Satreskrim Polresta Surakarta serta jajaran BPN setempat guna memastikan seluruh proses penyitaan berjalan sesuai ketentuan hukum.
Kasubdit II/Perbankan Dittipideksus Bareskrim Polri, Kombes Pol Dr. M. Arsal Sahban, S.H., S.I.K., M.H., M.M., yang memimpin penanganan perkara PT DSI, menegaskan bahwa penyitaan di Sukoharjo merupakan bagian dari rangkaian panjang upaya penelusuran dan pengamanan aset. Menurutnya, penyidik akan terus bergerak menelusuri setiap jejak kepemilikan yang memiliki keterkaitan dengan perkara tersebut.
Arsal, yang dikenal sebagai mantan Komandan Tim Cobra saat menjabat Kapolres Lumajang, menyampaikan bahwa perintah pimpinan menjadi landasan bagi penyidik untuk bekerja secara konsisten dan menyeluruh dalam mengejar aset yang berkaitan dengan perkara PT DSI.
"Bapak Direktur Tipideksus, Kombes Pol Suhasto, S.I.K., telah memberikan arahan agar penelusuran aset dilakukan secara berkelanjutan dan tidak boleh berhenti pada satu temuan. Kami berkomitmen menelusuri seluruh aset yang memiliki keterkaitan dengan PT DSI maupun pihak afiliasinya, tanpa dibatasi oleh lokasi, pola pengalihan, ataupun identitas pihak yang tercatat sebagai pemilik. Setiap indikasi akan kami dalami berdasarkan alat bukti dan ketentuan hukum. Tidak boleh ada celah bagi pihak mana pun untuk menyembunyikan hasil yang berkaitan dengan perkara ini," tegas Arsal.
Ia menekankan, penelusuran aset bukan hanya berorientasi pada pengungkapan keberadaan harta, melainkan juga bagian penting dari upaya menghadirkan keadilan dan membuka peluang pemulihan kerugian para korban.
Arsal juga mengapresiasi dukungan OJK yang dinilai memiliki peran strategis dalam menyediakan data awal untuk mempercepat proses identifikasi aset.
"Kami mengapresiasi kerja sama OJK yang telah memberikan dukungan data dalam proses penelusuran ini. Setiap informasi kami verifikasi secara cermat melalui BPN untuk memastikan keabsahan dan keterkaitan aset dengan perkara yang sedang ditangani. Sinergi antarlembaga menjadi faktor penting agar penelusuran tidak berhenti pada informasi awal, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi tindakan hukum yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan akhirnya adalah mengamankan aset yang memiliki dasar hukum untuk kepentingan proses penegakan hukum dan pemulihan hak para korban," ungkapnya.
Perkembangan penelusuran juga mulai menjangkau sejumlah wilayah lain di kawasan Solo Raya. Tim penyidik Subdit II/Perbankan Dittipideksus Bareskrim Polri yang dipimpin AKBP Agus Sobarnapraja, S.H., S.I.K., M.H., saat ini tengah mendalami sejumlah informasi mengenai aset yang berada di wilayah Surakarta melalui koordinasi dengan BPN setempat.
Arsal memastikan, pengembangan tersebut akan terus dilakukan berdasarkan hasil analisis dan informasi yang diperoleh penyidik.
"Penelusuran aset merupakan proses yang saling berkaitan. Satu temuan dapat menjadi pintu masuk untuk mengungkap keberadaan aset lainnya. Setelah Sukoharjo, kami melakukan pendalaman di Surakarta dan wilayah lain yang memiliki indikasi keterkaitan. Prinsip kami adalah bekerja berdasarkan bukti, menelusuri setiap jejak kepemilikan, serta memastikan aset yang berkaitan dengan perkara ini dapat diamankan melalui prosedur hukum. Setiap aset yang berhasil ditemukan memiliki arti penting dalam memperjuangkan hak para korban," tutur Arsal.
Hingga saat ini, akumulasi nilai aset yang berhasil ditelusuri Bareskrim Polri dari seluruh klaster perkara PT DSI telah melampaui Rp500 miliar. Angka tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam upaya penegakan hukum sekaligus membuka peluang pemulihan sebagian kerugian yang dialami para pemberi dana atau lender.
Di sisi lain, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) telah melakukan penghitungan restitusi terhadap 5.102 korban PT DSI dengan nilai mencapai sekitar Rp1,07 triliun.
Dalam penanganannya, penyidik membagi perkara PT DSI ke dalam empat klaster untuk mengoptimalkan proses penyidikan dan penelusuran aset. Klaster pertama melibatkan tersangka Taufiq Aljufri, Mery Yuniarni, dan Arie Rizal Lesmana. Klaster kedua menjerat Atis Sutisna, sedangkan klaster ketiga melibatkan tersangka berinisial FH.
Berkas perkara ketiga klaster tersebut telah dinyatakan lengkap atau P21 dan selanjutnya ditangani Kejaksaan Negeri Depok. Sementara itu, klaster keempat masih dalam tahap penyidikan dengan fokus pada pertanggungjawaban korporasi PT DSI.
Besarnya perkara ini tergambar dari hasil pemeriksaan OJK per September 2025. PT DSI diketahui telah menghimpun dana sekitar Rp11,49 triliun dari 23.266 lender sejak 2018. Dari jumlah tersebut, dana sekitar Rp2,47 triliun belum dikembalikan kepada para pemberi dana. Bahkan, sekitar Rp1,87 triliun di antaranya diduga dialirkan ke proyek fiktif.
Besaran dana yang belum dikembalikan tersebut menunjukkan kompleksitas perkara sekaligus besarnya tantangan dalam proses penelusuran dan pemulihan aset.
Bagi Bareskrim Polri, pengungkapan perkara PT DSI tidak berhenti pada penetapan tersangka maupun penyelesaian berkas perkara. Penelusuran aset menjadi bagian krusial untuk memastikan setiap harta yang terbukti berkaitan dengan tindak pidana dapat diproses sesuai hukum dan diupayakan bagi pemulihan hak korban.
Dengan nilai kerugian yang besar dan ribuan korban yang menantikan kepastian, Bareskrim Polri kini terus memperluas jangkauan penyidikan. Pesan yang ingin ditegaskan jelas: setiap jejak aset akan ditelusuri, setiap indikasi akan didalami, dan setiap langkah hukum akan diarahkan pada satu tujuan, yakni menghadirkan kepastian hukum serta memperjuangkan hak para korban PT DSI.
|msb





