business

5/cate1/Agro Bisnis

Kriminal

6/cate2/Kriminal

Daerah

6/cate3/HUT Bhayangkara

Sport

5/cate4/Sport

entertainment

5/cate5/Bondowoso

videos

Recent post

Rp2,47 Triliun Dana Lender Belum Kembali, Kombes Arsal Sahban Ungkap Langkah Bareskrim

JAKARTA|masbhabinnews.com

 Harapan ribuan pemberi dana atau lender PT Dana Syariah Indonesia (PT DSI) untuk memperoleh kembali hak mereka kini bertumpu pada proses hukum yang terus berkembang. Bareskrim Polri menelusuri aset dengan nilai lebih dari Rp500 miliar dalam perkara dugaan penyimpangan pengelolaan dana pada platform pendanaan tersebut, sebagai bagian dari upaya mengungkap aliran dana sekaligus membuka peluang pemulihan kerugian para korban.

Langkah penelusuran aset atau asset tracing itu menjadi salah satu fokus utama Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri dalam menangani perkara yang berdampak terhadap ribuan masyarakat. Di tengah besarnya nilai dana yang belum kembali, penegakan hukum diharapkan tidak hanya mengungkap pihak yang bertanggung jawab, tetapi juga menelusuri keberadaan aset yang berpotensi digunakan untuk memulihkan kerugian korban sesuai mekanisme hukum.

Perkembangan terbaru ditandai dengan dinyatakan lengkapnya berkas perkara tersangka berinisial FH oleh jaksa penuntut umum atau P21 pada 15 Oktober 2026. FH merupakan tersangka dalam klaster ketiga dari empat klaster penyidikan yang disusun untuk mengurai perkara PT DSI.

Penyidik membagi penanganan perkara ke dalam empat klaster. Klaster pertama menetapkan tiga tersangka, yakni TA selaku direktur utama, MY selaku pendiri, mantan direktur sekaligus pemegang saham, serta ARL selaku komisaris. Klaster kedua melibatkan satu tersangka, sedangkan klaster ketiga menjerat FH.

Berkas perkara dari ketiga klaster tersebut telah dinyatakan lengkap oleh kejaksaan. Sementara itu, penyidikan klaster keempat masih berlangsung dengan menyasar PT DSI sebagai korporasi.

Penelusuran Aset Menjadi Fokus Pemulihan Kerugian

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Kombes Pol. Suhasto, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa orientasi penanganan perkara PT DSI tidak semata mata terletak pada penetapan tersangka, tetapi juga pada upaya menelusuri aset yang berkaitan dengan dugaan tindak pidana tersebut.

“Keberhasilan penanganan perkara PT DSI tidak kami ukur dari berapa banyak orang yang kami tetapkan sebagai tersangka. Ukuran yang sesungguhnya adalah sejauh mana hak para korban bisa dipulihkan. Karena itu, penyidikan kami jalankan beriringan dengan penelusuran aset, mengikuti ke mana pun uang para lender mengalir,” tegas Suhasto.

Ia menambahkan, penyidik juga menempuh langkah hukum terhadap korporasi guna memperluas pertanggungjawaban atas perkara tersebut.

“Korporasinya juga kami mintai pertanggungjawaban pidana. Pesannya jelas, siapa pun yang menyalahgunakan kepercayaan masyarakat di sektor keuangan akan kami kejar sampai ke aliran uangnya,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengungkapan perkara keuangan membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari penelusuran dugaan tindak pidana, pemetaan aliran dana, hingga identifikasi aset yang berkaitan dengan perkara.

Aset yang Ditelusuri Melampaui Rp500 Miliar

Kasubdit II/Perbankan Dittipideksus Bareskrim Polri, Kombes Pol. Dr. M. Arsal Sahban, S.H., S.I.K., M.H., M.M., menjelaskan bahwa nilai aset yang ditelusuri perlu dipahami secara menyeluruh karena penyidikan dibagi ke dalam empat berkas perkara.

Menurut Arsal, setiap berkas memiliki aset sitaan yang berkaitan dengan penanganan perkara masing masing. Karena itu, angka yang terlihat dalam satu berkas tidak serta merta mencerminkan keseluruhan nilai aset yang telah ditelusuri penyidik.

“Perkara ini kami bagi ke dalam empat berkas, dan aset yang disita melekat pada masing masing berkas. Jadi kalau publik hanya melihat satu berkas, angkanya tidak akan menggambarkan keseluruhan. Secara total, tracing aset yang telah dilakukan Subdit Perbankan nilainya lebih dari Rp500 miliar, dan itu masih terus kami kembangkan,” ujar Arsal.

Dalam berkas perkara tersangka FH, penyidik menyita sejumlah barang bukti yang berkaitan dengan aset, meliputi 52 dokumen kepemilikan tanah dan bangunan yang tersebar di Bogor, Tangerang Selatan, Jakarta, dan Bekasi.

Selain itu, terdapat delapan dokumen agunan aset yang berasal dari pengalihan piutang atau cessie sebuah bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS), dengan lokasi aset yang disebut membentang dari Bekasi hingga Palembang. Penyidik juga menyita uang tunai hampir Rp5,4 miliar.

Penelusuran tersebut menjadi bagian dari upaya mengidentifikasi aset yang relevan dengan perkara. Namun, proses pemulihan dana korban tetap harus mengikuti tahapan hukum dan mekanisme yang berlaku, sehingga nilai aset yang ditelusuri maupun disita tidak dapat langsung disamakan dengan dana yang sudah dipastikan akan dikembalikan kepada para lender.

Penanganan Korporasi Buka Ruang Penelusuran Lebih Luas

Arsal menjelaskan bahwa penyidikan terhadap PT DSI sebagai korporasi memiliki arti penting dalam memperluas penelusuran aset yang berhubungan dengan perkara tersebut.

Dengan mengusut pertanggungjawaban pidana korporasi, penyidik dapat mendalami aset yang tercatat atas nama perusahaan, termasuk perusahaan yang diduga digunakan dalam rangkaian pengelolaan atau penampungan dana lender, sepanjang berkaitan dengan perkara dan memenuhi ketentuan hukum.

“Dengan menjerat PT DSI sebagai korporasi, pertanggungjawaban pidana tidak berhenti pada individu. Aset yang tercatat atas nama perusahaan, termasuk perusahaan perusahaan yang dipakai untuk menampung dana lender, dapat ditelusuri untuk kepentingan pengembalian kerugian korban,” jelasnya.

Langkah tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam perkara yang melibatkan transaksi keuangan berskala besar. Penelusuran tidak hanya diarahkan pada pihak perorangan, tetapi juga pada kemungkinan keterkaitan antara badan usaha, kepemilikan aset, dan aliran dana yang sedang diselidiki.

Meski demikian, keberadaan aset yang berhasil diidentifikasi belum otomatis menjamin seluruh kerugian korban dapat dipulihkan. Kepastian mengenai pengembalian dana bergantung pada hasil penyidikan, proses hukum, status aset, serta mekanisme penyelesaian yang ditetapkan sesuai peraturan perundang undangan.

Dana Rp2,47 Triliun Belum Kembali, Ribuan Lender Menanti Kepastian

Besarnya dampak perkara PT DSI tergambar dari data hasil pemeriksaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per September 2025. Sejak 2018, platform tersebut tercatat menghimpun dana dari 23.266 lender dengan nilai akumulasi mencapai Rp11,49 triliun.

Sementara itu, berdasarkan data per 22 September 2025, dana lebih dari Rp2,47 triliun milik 11.151 lender tercatat belum kembali.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp1,87 triliun diduga dialirkan ke proyek fiktif. Adapun dana yang disebut benar benar mengalir ke proyek riil hanya sekitar Rp145 miliar.

Angka tersebut memperlihatkan besarnya persoalan yang harus diurai penyidik. Di balik nilai transaksi dan dokumen keuangan, terdapat ribuan lender yang menantikan kepastian hukum serta kejelasan mengenai peluang pemulihan dana mereka.

Dalam konteks ini, penelusuran aset menjadi bagian penting untuk menjawab pertanyaan mendasar para korban: ke mana dana mengalir, aset apa yang dapat dikaitkan dengan perkara, dan bagaimana proses hukum dapat membuka jalan bagi pemulihan kerugian.

Bareskrim Ingatkan Korban Waspadai Penipuan Berkedok Pengembalian Dana

Di tengah keresahan para lender, Arsal mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap pihak yang menjanjikan pengembalian dana secara cepat dengan meminta imbalan tertentu.

Ia meminta korban tetap tenang, menyimpan seluruh dokumen dan bukti penempatan dana, serta mengikuti perkembangan penanganan perkara melalui saluran resmi.

“Kami memahami keresahan para lender. Kami minta korban tetap tenang, menyimpan seluruh bukti penempatan dana, dan jangan percaya kepada pihak mana pun yang menjanjikan dana bisa cepat kembali dengan imbalan tertentu. Pengembalian aset hanya melalui mekanisme hukum,” pesan Arsal.

Imbauan tersebut penting untuk mencegah munculnya korban baru di tengah upaya masyarakat memperoleh kembali dana yang belum dikembalikan. Dokumen transaksi, bukti transfer, perjanjian pendanaan, serta komunikasi yang berkaitan dengan penempatan dana perlu disimpan dengan baik untuk mendukung kepentingan hukum para korban.

Masyarakat juga perlu berhati hati terhadap pihak yang mengatasnamakan aparat, kuasa hukum, atau lembaga tertentu untuk menawarkan jasa pemulihan dana tanpa dasar dan prosedur yang jelas.

Berawal dari Tujuh Laporan Polisi

Penanganan perkara PT DSI berawal dari tujuh laporan polisi yang diterima Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya sejak Oktober 2025.

Dalam proses hukum tersebut, para tersangka dijerat dengan sejumlah ketentuan pidana, antara lain Pasal 488 dan/atau Pasal 486 dan/atau Pasal 492 Undang Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang Undang Hukum Pidana, Pasal 45A ayat (1) juncto Pasal 28 ayat (1) Undang Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 299 Undang Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, serta ketentuan mengenai tindak pidana pencucian uang.

Dengan tiga klaster perkara yang berkasnya telah dinyatakan lengkap dan penyidikan terhadap korporasi yang masih berjalan, pengusutan PT DSI memasuki tahap penting untuk mengungkap pertanggungjawaban hukum secara menyeluruh.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan penanganan perkara ini bukan hanya terletak pada terbongkarnya dugaan penyimpangan atau diprosesnya para pihak yang bertanggung jawab, melainkan juga pada kepastian hukum yang diberikan kepada masyarakat. Bagi ribuan lender yang menanti, setiap aset yang berhasil ditelusuri menjadi bagian dari ikhtiar mencari kejelasan, meskipun pemulihan kerugian tetap harus melalui proses hukum yang berlaku.


|msb

Hairul Rasyid: Pamnas Bonsai 2026 Pamekasan Jadi Momentum Kebangkitan Bonsai Jawa Timur di Panggung Nasional

Yayat Hidayat (Ketua Bidang Penjurian, bersama juri Pamnas PPBI Pamekasan) Foto.Dok.Abadi.Bonsai)

PAMEKASAN |masbhabinnews.com

Dari ketekunan merawat kehidupan, lahir karya seni yang menyatukan keindahan alam, ketajaman imajinasi, dan kematangan rasa. Semangat itulah yang mewarnai Pameran Bonsai Nasional (Pamnas) Persatuan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) 2026 di Kabupaten Pamekasan, yang menghadirkan momentum bersejarah melalui penyelenggaraan Kelas Bintang untuk pertama kalinya di Pulau Madura.

Mengusung tema “Madura Menantang Para Bintang”, ini menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Pamekasan ke 496. Lebih dari sebuah kompetisi seni tanaman, kegiatan tersebut merepresentasikan perkembangan komunitas bonsai sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Ratusan pegiat, kolektor, dan pencinta bonsai dari berbagai daerah di Indonesia hadir untuk menampilkan karya terbaik mereka. Kehadiran peserta lintas wilayah itu mempertegas posisi Pamnas sebagai ruang apresiasi, pertukaran pengetahuan, serta penguatan jejaring antarpenggiat seni bonsai di tingkat nasional.

Hairul Rasyid: Pamnas Menjadi Ruang Pembuktian Kualitas dan Potensi Bonsai Jawa Timur

Sekretaris Wilayah PPBI Jawa Timur, Hairul Rasyid, menilai penyelenggaraan Pamnas 2026 di Pamekasan memiliki arti strategis bagi perkembangan bonsai di Jawa Timur.

Menurutnya, kehadiran kelas tertinggi dalam kompetisi bonsai nasional tersebut merupakan momentum penting untuk menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki potensi, karakter, dan sumber daya yang mampu bersaing dalam peta perkembangan bonsai Indonesia.

“Pameran bonsai nasional ini bukan hanya tentang memperebutkan penghargaan, melainkan juga tentang membangun standar kualitas, memperluas wawasan, serta mempertemukan kreativitas para pegiat bonsai dari berbagai daerah. Penyelenggaraan Kelas Bintang untuk pertama kalinya di Madura menjadi tonggak penting yang patut dibanggakan sekaligus tantangan untuk terus meningkatkan kualitas karya,” ujar Hairul Rasyid.

Ia menegaskan, kemajuan bonsai membutuhkan perpaduan antara ketekunan, pengetahuan teknis, kepekaan artistik, dan konsistensi dalam proses pembentukan. Bonsai tidak terbentuk dalam waktu singkat, melainkan melalui perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, ketelitian, serta kemampuan membaca karakter alami tanaman.

Hairul juga memandang Pamnas sebagai peluang untuk mempertemukan seni dengan aktivitas ekonomi produktif. Menurutnya, ekosistem bonsai memiliki keterkaitan dengan usaha pembibitan, penyediaan bahan tanaman, pot, media tanam, perlengkapan perawatan, hingga jasa pembentukan dan pemasaran karya.

“Ketika potensi lokal dikelola secara profesional dan dipertemukan dengan jaringan pasar yang lebih luas, bonsai dapat menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang bernilai. Kami berharap momentum ini mendorong lahirnya lebih banyak pelaku usaha, memperkuat regenerasi pegiat bonsai, serta membawa nama Jawa Timur semakin diperhitungkan di tingkat nasional,” tambahnya.

625 Peserta, Kelas Bintang Menjadi Daya Tarik Utama

Ketua panitia pelaksana Pamnas Bonsai 2026, Firdaus Andriansyah, sebelumnya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti sekitar 625 peserta dari berbagai daerah, di antaranya Lamongan, Gresik, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Bali, Jakarta, Tangerang, Semarang, hingga Jawa Barat.

Kompetisi menghadirkan sejumlah kelas, mulai dari Prospek atau Bahan, Pratama, Madya, Utama, hingga Kelas Bintang sebagai jenjang tertinggi dalam penyelenggaraan tersebut.

Kelas Bintang menjadi salah satu daya tarik utama karena untuk pertama kalinya digelar di Madura. Kehadirannya sekaligus memberikan ruang bagi kolektor dan pegiat bonsai untuk menguji kualitas karya berdasarkan standar penilaian yang lebih kompetitif.

Firdaus menjelaskan bahwa pemilihan tema “Madura Menantang Para Bintang” didasarkan pada meningkatnya ketertarikan masyarakat Pamekasan terhadap bonsai. Minat tersebut terlihat dari keterlibatan pehobi, kolektor, serta kalangan pengusaha yang mulai menjadikan bonsai sebagai bagian dari aktivitas seni dan investasi koleksi.

Ia berharap kegiatan ini mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, terutama melalui pertumbuhan UMKM dan pengembangan industri kreatif yang berhubungan dengan bonsai.

Yayat Hidayat, Ketua Bidang Penjurian PPBI Pusat, Tekankan Profesionalisme Penilaian Bonsai

Yayat Hidayat, yang akrab disapa Ujang, selaku Ketua Bidang Penjurian PPBI Pusat, turut melaksanakan tugas penjurian dalam Pameran Bonsai Nasional (Pamnas) PPBI 2026 di Pamekasan. Perannya menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas, objektivitas, dan kredibilitas kompetisi bonsai tingkat nasional.

Menurutnya, penjurian bonsai membutuhkan ketelitian, pengalaman, serta pemahaman mendalam terhadap karakter dan nilai artistik setiap karya, dengan mempertimbangkan gerak dasar pohon, keseimbangan, proporsi, keselarasan, serta kematangan pembentukan.

“Penjurian bonsai bukan hanya tentang menentukan peringkat atau mencari pemenang, tetapi juga menjaga objektivitas, menghargai proses kreatif, dan mendorong peningkatan kualitas karya. Melalui standar penilaian yang profesional, kita berharap seni bonsai Indonesia semakin berkembang dan mampu menunjukkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional,” ungkap Yayat Hidayat.

Wakil Ketua Umum PPBI Pusat: Bonsai Menghubungkan Seni dan Ekonomi Kreatif

Wakil Ketua Umum PPBI Pusat, Nana Suryana, menyampaikan bahwa PPBI telah berkembang dan hadir di 262 kabupaten dan kota di Indonesia. Perkembangan tersebut menunjukkan besarnya ruang pertumbuhan komunitas bonsai sebagai wadah berkesenian, membangun persaudaraan, dan memperluas kolaborasi lintas daerah.

Dalam penyelenggaraan Pamnas di Pamekasan, Nana menyebut peserta datang dari berbagai wilayah di Pulau Jawa dan Bali. Kehadiran mereka tidak hanya memberikan nilai tambah bagi kegiatan pameran, tetapi juga berpotensi menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.

Menurutnya, kegiatan berskala nasional dapat memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor usaha, mulai dari perdagangan bahan bonsai, kuliner, transportasi, hingga penginapan. Aktivitas transaksi antarpenggiat juga membuka peluang pemasaran produk lokal kepada kolektor dari luar daerah.

“Peserta dari luar daerah tentu membutuhkan tempat makan, penginapan, dan berbagai kebutuhan selama mengikuti kegiatan. Selain itu, banyak pegiat bonsai yang mencari serta membeli bahan bonsai langsung dari Pamekasan. Ini memperlihatkan bahwa kegiatan bonsai memiliki hubungan nyata dengan perputaran ekonomi masyarakat,” ungkap Nana.

Ia menegaskan, bonsai merupakan bagian dari ekonomi kreatif yang bertumpu pada kemampuan manusia mengolah potensi alam menjadi karya bernilai tinggi. Tanaman yang pada awalnya terlihat biasa dapat berkembang menjadi karya seni istimewa melalui keterampilan, pengalaman, dan imajinasi seorang pembentuk bonsai.

“Bonsai adalah ekonomi kreatif. Sesuatu yang terlihat biasa dapat memiliki nilai tinggi ketika dikelola dengan tangan terampil dan imajinasi yang kuat. Karena itu, pengembangan bonsai perlu didukung oleh peningkatan kualitas, pertukaran pengetahuan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak,” tegasnya.

Penilaian Bonsai Mengutamakan Karakter, Keseimbangan, dan Keselarasan

Nana menjelaskan bahwa penilaian bonsai dilakukan berdasarkan sejumlah aspek mendasar yang berkaitan dengan karakter alami tanaman dan kualitas pembentukannya.

Aspek tersebut meliputi gerak dasar pohon, keseimbangan, keserasian, penampilan keseluruhan, serta kualitas struktur batang, dahan, cabang, ranting, hingga percabangan halus atau cucu ranting.

Setiap unsur harus membentuk kesatuan visual yang harmonis. Kualitas bonsai tidak hanya ditentukan oleh ukuran atau usia tanaman, tetapi juga oleh karakter, proporsi, kematangan struktur, dan kemampuan menghadirkan nilai artistik tanpa menghilangkan kesan alami.

Menurut Nana, perkembangan bonsai di Madura menunjukkan tren yang menggembirakan. Keempat kabupaten di Pulau Madura memiliki potensi melahirkan karya berkarakter yang mampu bersaing dalam kompetisi tingkat nasional.

Antusiasme pegiat dan kolektor di Pamekasan juga menjadi modal penting untuk memperkuat posisi daerah tersebut sebagai salah satu pusat pertumbuhan komunitas bonsai di kawasan timur Jawa.

Bupati Hadir, Pamnas Warnai Hari Jadi Pamekasan ke 496

Bupati Pamekasan, KH. Kholilurrahman, turut hadir dalam penyelenggaraan Pamnas Bonsai 2026 yang menjadi bagian pembuka rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Pamekasan ke 496.

Kehadiran kepala daerah tersebut menjadi bagian dari momentum kebersamaan antara komunitas bonsai dan masyarakat dalam menyemarakkan agenda daerah yang mempertemukan seni, budaya, kreativitas, dan potensi ekonomi lokal.

Penyelenggaraan pameran nasional ini sekaligus memperlihatkan bahwa kegiatan komunitas dapat berkembang menjadi ruang promosi daerah apabila dikelola secara konsisten, profesional, dan melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Bagi Pamekasan, kehadiran ratusan pegiat bonsai dari berbagai wilayah membuka kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerah kepada pengunjung, memperluas jaringan usaha, serta mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi selama kegiatan berlangsung.

Dari Keindahan Tanaman Menuju Masa Depan Ekonomi Kreatif

Pamnas Bonsai 2026 memperlihatkan bahwa seni bonsai memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada kompetisi dan penghargaan. Di dalamnya terdapat proses pembelajaran, pelestarian pengetahuan, penguatan persaudaraan, pengembangan keterampilan, serta peluang ekonomi yang dapat tumbuh melalui kreativitas masyarakat.

Keberhasilan penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan menjadi pijakan bagi pengembangan agenda bonsai berskala nasional secara berkelanjutan di Madura. Dukungan komunitas, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk menjaga kesinambungan perkembangan tersebut.

Bagi Hairul Rasyid, momentum Pamnas di Pamekasan harus dimaknai sebagai awal dari langkah yang lebih besar: membangun ekosistem bonsai yang berkualitas, produktif, dan memiliki daya saing.

Sebab, di balik setiap bonsai yang memikat, terdapat waktu yang panjang, kesabaran yang teruji, dan imajinasi yang terus bertumbuh. Dari tangan para perawatnya, tanaman tidak hanya menemukan bentuk terbaiknya, tetapi juga menghadirkan peluang ekonomi, mempererat persaudaraan, serta mengangkat potensi daerah ke panggung nasional.


|Abadi Bonsai

Dewi Perssik dan Abon Barokah Yuli, Kisah Dukungan Selebriti Nasional yang Mengubah Nasib UMKM Bondowoso

BONDOWOSO|masbhabinnews.com

Di tengah derasnya arus industri hiburan dan geliat ekonomi digital, kepedulian seorang figur publik dapat menjadi jembatan penting bagi pelaku usaha kecil untuk memperluas pasar. Hal itu tercermin dari perhatian Dewi Perssik terhadap produk UMKM asal Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Penyanyi dangdut nasional yang akrab disapa Mami Depe tersebut turut memperkenalkan Abon Barokah Yuli, produk usaha rumahan milik Yuli Astutik yang berada di Kecamatan Tapen, Bondowoso.

Melalui kekuatan media sosial yang memiliki jangkauan luas, Dewi Perssik membantu memperkenalkan produk lokal tersebut kepada khalayak yang lebih besar. Promosi dilakukan melalui sejumlah kanal digital miliknya, termasuk Instagram dan TikTok.

Abon Barokah Yuli menawarkan sejumlah pilihan rasa, mulai dari original hingga pedas. Produk tersebut menggunakan bahan utama daging ayam kampung dan daging sapi yang diolah menjadi abon dengan cita rasa khas.

Dukungan Dewi Perssik tidak berhenti pada promosi produk. Kepeduliannya terhadap pelaku usaha kecil juga tercermin dari pesan yang disampaikannya mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.

“Di tengah keramaian, jangan sampai suara pedagang kecil tenggelam. Mereka tetap harus hidup, tetap harus jualan, tetap harus kuat. Semoga bisa jadi semangat buat kita semua untuk saling menjaga satu sama lain,” ujar Dewi Perssik.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa ruang digital tidak hanya dapat menjadi panggung hiburan, tetapi juga memiliki kekuatan untuk membuka akses pasar bagi pelaku UMKM yang selama ini menghadapi keterbatasan dalam promosi.

Bagi pelaku usaha kecil, perhatian dari figur publik dengan basis pengikut yang besar dapat memberikan dampak signifikan terhadap tingkat pengenalan sebuah produk. Ketika promosi menjangkau audiens yang lebih luas, peluang terbentuknya pasar baru pun semakin terbuka.

Dewi Perssik selama ini dikenal memiliki perhatian terhadap pelaku UMKM. Melalui akun media sosialnya, ia kerap memberikan ruang promosi bagi produk usaha masyarakat melalui unggahan, Instagram Story maupun sesi siaran langsung.

Dukungan tersebut menjadi semakin berarti karena promosi diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap pelaku usaha kecil. Bagi UMKM, akses terhadap promosi dengan jangkauan luas sering kali menjadi salah satu tantangan terbesar dalam membangun pasar dan meningkatkan penjualan.

Dampaknya dirasakan langsung oleh Yuli Astutik, pemilik Abon Barokah Yuli. Setelah produknya mendapat perhatian melalui media sosial Dewi Perssik, permintaan terhadap abon produksinya mengalami peningkatan dan pesanan datang dari lebih banyak konsumen.

Yuli mengaku terharu sekaligus bersyukur atas perhatian yang diberikan Dewi Perssik terhadap usaha yang dirintisnya.

“Ya Allah, terima kasih Mami Dewi Perssik yang telah membantu mempromosikan usaha abon milik saya hingga viral dan dikenal. Semoga kebaikan hati Mami dibalas dengan pahala dan kebaikan yang berlipat,” ujar Yuli dengan penuh haru.

Bagi Yuli, dukungan tersebut bukan hanya tentang meningkatnya penjualan. Promosi itu menjadi dorongan moral bahwa produk yang lahir dari usaha masyarakat di daerah juga memiliki kesempatan untuk dikenal lebih luas apabila mendapatkan ruang dan dukungan yang tepat.

Kisah Abon Barokah Yuli menunjukkan bagaimana kolaborasi sederhana di ruang digital dapat memberikan efek ekonomi yang nyata. Ketika popularitas seorang figur publik digunakan untuk membuka akses promosi bagi pelaku usaha kecil, media sosial berubah menjadi ruang pemberdayaan yang mempertemukan produk lokal dengan konsumen yang lebih luas.

Kepedulian Dewi Perssik juga dikenal tidak hanya melalui dukungan terhadap UMKM. Ia turut aktif dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk berbagi kebutuhan pokok kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dari panggung hiburan hingga ruang digital, kepedulian tersebut memberikan pesan yang lebih luas: keberhasilan tidak selalu harus berhenti pada pencapaian pribadi. Ada nilai yang jauh lebih bermakna ketika popularitas, pengaruh dan akses yang dimiliki dapat digunakan untuk menguatkan mereka yang sedang berjuang membangun kehidupan melalui usaha kecil.

Abon Barokah Yuli dari Tapen menjadi salah satu gambaran bahwa produk lokal dapat menembus pasar yang lebih luas ketika keberanian pelaku usaha bertemu dengan kepedulian dan kekuatan promosi digital. Dari sebuah usaha rumahan di Bondowoso, sebuah dukungan kecil mampu membuka pintu kesempatan yang jauh lebih besar.


|msb

Deg Degan Setelah 20 Tahun, Dewi Perssik Ungkap Perasaannya Saat Kembali Berakting

 

Dewi Perssik dan Suara Hati, pertemuan antara musik, akting, dan kisah kehidupan (foto: dok. abadi)

JAKARTA |masbhabinnews.com

Setelah hampir dua dekade lebih menempatkan musik sebagai panggung utama perjalanan kariernya, Dewi Perssik kembali menapaki dunia seni peran. Kali ini, penyanyi dangdut tersebut hadir sebagai pemeran utama dalam serial drama musikal Suara Hati, produksi MD Entertainment yang memadukan kisah keluarga, pergulatan emosional, dan denyut kehidupan panggung dangdut.

Dewi Perssik, sosok seniman dengan karakter kuat dan energi panggung yang tak pernah padam (foto:dok.abadi)

Serial tersebut diperkenalkan kepada publik melalui jumpa pers di MD Place, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis, 1 Oktober 2026. Suara Hati dijadwalkan tayang perdana melalui Netflix pada 9 Oktober 2026, sebelum hadir di MDTV setiap Sabtu dan Minggu pukul 20.00 WIB mulai 10 Oktober 2026.

Dalam serial itu, Dewi Perssik dipercaya memerankan Melodi, seorang penyanyi dangdut sekaligus ibu dari dua anak perempuan. Tokoh tersebut digambarkan berada di tengah persimpangan kehidupan keluarga dan karier, menghadapi berbagai persoalan yang menguji keteguhan hati, relasi keluarga, serta perjalanan profesionalnya di industri hiburan.

Kisah Melodi dibangun dengan menjadikan kehidupan pribadi dan panggung musik sebagai dua ruang yang saling berkelindan. Konflik keluarga tidak hanya menjadi latar, tetapi turut membentuk perjalanan emosional karakter utama dalam mengejar impian sekaligus mempertahankan kehidupan yang telah dibangunnya.

Bagi Dewi Perssik, proyek tersebut memiliki arti tersendiri. Suara Hati menjadi momentum reuni dengan MD Entertainment, rumah produksi yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan awal karier aktingnya melalui sinetron Mimpi Manis pada 2006.

Kembali berhadapan dengan kamera setelah rentang waktu yang panjang ternyata menghadirkan perasaan campur aduk bagi Dewi. Ia mengaku sempat merasakan kegugupan ketika harus kembali menjalani proses akting.

“Saya agak nervous, jujur. Grogi. Saya bilang tadi sama Bapak, ‘Aduh, Pak, kok saya deg-degan ya?’ Karena memang saya kembali lagi setelah 20 tahun bersama Mimpi Manis,” ujar Dewi Perssik.

Kehadiran Dewi dalam proyek tersebut juga mendapat perhatian khusus dari Produser MD Entertainment, Manoj Punjabi. Menurutnya, Suara Hati telah dipersiapkan melalui proses pengembangan selama dua hingga tiga tahun. Dewi dinilai memiliki kombinasi kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan karakter utama.

Tidak hanya mengandalkan kemampuan akting dan vokal, serial tersebut menuntut kesiapan fisik para pemain. Sejumlah adegan pertunjukan dirancang dengan teknik aerial silk dan pole dance, sehingga para pemeran harus menjalani tantangan fisik sekaligus menjaga kualitas penampilan di depan kamera.

Bagi Dewi, kepercayaan tersebut menjadi tanggung jawab yang ingin dijawab melalui karya. Ia berharap kehadirannya kembali di dunia seni peran dapat diterima masyarakat sekaligus memberikan pengalaman tontonan yang memiliki kedalaman cerita.

Dengan total 60 episode, Suara Hati menjadi babak baru bagi Dewi Perssik dalam memperluas kembali ruang ekspresinya di dunia akting. Serial ini tidak hanya menawarkan musik dangdut sebagai elemen hiburan, tetapi juga membawa kisah tentang keluarga, ambisi, pergulatan batin, dan pilihan hidup ke dalam sebuah narasi yang lebih luas.

Kembalinya Dewi Perssik ke layar kaca akhirnya bukan hanya tentang bertemunya kembali seorang bintang dengan kamera. Lebih dari itu, Suara Hati menjadi ruang bagi perjalanan lama dan pengalaman baru untuk bertemu, menghadirkan Dewi dalam warna berbeda di tengah dinamika industri hiburan Indonesia yang terus berkembang.


|msb

Prabowo Tetapkan Estafet Baru Polri, Suyudi Ario Seto Resmi Gantikan Listyo Sigit

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto bersama KSP Listyo Sigit Prabowo (Lucky)

JAKARTA |masbhabinnews.com

Pergantian kepemimpinan di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia memasuki babak baru. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto resmi melantik Komjen Pol. Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Pelantikan tersebut menandai berakhirnya masa kepemimpinan Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri sekaligus dimulainya kepemimpinan Suyudi dalam mengarahkan institusi Polri menghadapi dinamika keamanan dan ketertiban masyarakat yang terus berkembang.

Sebelum sampai pada prosesi pelantikan di Istana, pergantian pucuk pimpinan Polri telah melalui mekanisme konstitusional di parlemen. Komisi III DPR RI menyetujui Suyudi sebagai calon Kapolri setelah menjalani uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Persetujuan tersebut diambil secara aklamasi dalam rapat Komisi III DPR RI. Selanjutnya, Rapat Paripurna DPR RI menyetujui pengangkatan Suyudi sebagai Kapolri sekaligus pemberhentian dengan hormat Listyo Sigit dari jabatan tersebut.

Rangkaian proses itu berlangsung dalam waktu relatif singkat. Ketua DPR RI Puan Maharani sebelumnya menyampaikan bahwa keputusan segera diteruskan kepada Presiden agar proses pergantian kepemimpinan tidak menimbulkan kekosongan jabatan Kapolri.

Pergantian tersebut bermula dari surat Presiden Prabowo Subianto kepada DPR RI tertanggal 30 September 2026 mengenai usulan pemberhentian dan pengangkatan Kapolri. Surat itu menjadi dasar bagi parlemen untuk menjalankan tahapan konstitusional sebelum keputusan pengangkatan ditetapkan.

Listyo Sigit Mengemban Tugas Baru di Lingkar Kepresidenan

Seiring dengan perubahan pucuk pimpinan Polri, Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo mendapat penugasan baru sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP), menggantikan Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman.

Perpindahan tugas tersebut menempatkan Listyo Sigit pada posisi strategis dalam lingkungan Istana Kepresidenan. Sebelumnya, Listyo menyampaikan bahwa penugasan tersebut merupakan bentuk kehormatan sekaligus kesempatan untuk kembali memberikan pengabdian dalam kapasitas berbeda.

Perubahan jabatan ini memperlihatkan adanya penataan sejumlah posisi strategis dalam pemerintahan pada saat yang bersamaan. Selain pergantian Kapolri dan Kepala Staf Kepresidenan, sejumlah pejabat lain juga masuk dalam agenda pelantikan Presiden pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Salah satu nama yang turut mendapat penugasan baru ialah Komjen Pol. Karyoto yang dilantik sebagai Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Kepemimpinan Baru Polri

Dengan dilantiknya Suyudi Ario Seto, estafet kepemimpinan Korps Bhayangkara resmi berpindah. Dari seorang jenderal yang sebelumnya memimpin institusi kepolisian nasional, tongkat komando kini berada di tangan Suyudi.

Perubahan tersebut tidak hanya memiliki arti administratif, tetapi juga menjadi bagian dari dinamika kelembagaan negara yang menempatkan Polri sebagai salah satu institusi strategis dalam menjaga keamanan, penegakan hukum, pelayanan masyarakat, serta pemeliharaan ketertiban nasional.

Kini, perhatian publik tertuju pada bagaimana kepemimpinan baru Suyudi Ario Seto akan menerjemahkan mandat tersebut ke dalam kebijakan, tata kelola organisasi, serta pelayanan kepolisian yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Pada saat yang sama, Listyo Sigit memulai babak pengabdian baru dari Kantor Staf Kepresidenan. Dua pergantian tersebut menjadi bagian dari satu rangkaian penataan jabatan strategis negara yang berlangsung pada awal Oktober 2026.

Estafet kepemimpinan telah berganti, tetapi mandat pengabdian tetap berada pada garis yang sama: memastikan negara hadir melalui institusi yang bekerja dengan tanggung jawab, keteguhan, dan orientasi pelayanan kepada masyarakat.


|Lucky