![]() |
| Joget bareng di bawah hujan, simbol bahwa dialog dan kebersamaan mampu menghapus jarak. Kompol I Gede Suartika, polisi humanis yang selalu dekat dengan rakyat(Foto:Dok.Humas) |
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai kegiatan audiensi yang digelar Laskar Jahanam (Jalinan Hati Anak Manusia) bersama Aparat Penegak Hukum (APH) di Pengadilan Negeri Bondowoso, Rabu (23/10/2025).
![]() |
| Wakapolres Bondowoso Puji Kekompakan dan Kedewasaan Yayasan Laskar Jahanam dalam Unjuk Rasa (Foto:Dok:Humas) |
![]() |
| Foto ini bukan sekadar momen, tapi bukti nyata kebersamaan yang penuh kepercayaan (Foto:Dok.Humas) |
Senyum dan tawa tercipta di tengah barisan, menghadirkan suasana yang jarang terlihat dalam sebuah aksi unjuk rasa.
Sejak matahari terbit hingga hujan mengguyur kota, Kompol I Gede Suartika tetap berada di tengah masyarakat. Beliau mendengarkan setiap aspirasi dengan sabar, memastikan setiap peserta aksi merasa dihargai dan didengar.
“Kami tidak datang untuk menjaga jarak, tetapi untuk menjembatani. Aspirasi masyarakat adalah bagian dari semangat kami dalam membangun Bondowoso yang lebih baik,” ujar Kompol I Gede Suartika dengan senyum penuh ketulusan.
Momen ketika beliau ikut berjoget bersama para peserta aksi menjadi simbol kedekatan yang tulus antara polisi dan rakyat.
Sorakan bahagia terdengar dari massa yang tak menyangka akan disambut dengan begitu hangat oleh jajaran kepolisian.
Suasana yang awalnya tegang berubah menjadi pesta damai di bawah hujan, menggambarkan bahwa dialog dapat menggantikan amarah, dan senyum dapat menenangkan suasana.
Usai kegiatan, Kompol I Gede Suartika memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta dari Yayasan Laskar Jahanam, yang telah menunjukkan kedewasaan dan ketertiban luar biasa selama berlangsungnya aksi.
“Saya sangat mengapresiasi rekan-rekan dari Laskar Jahanam. Mereka menyampaikan aspirasi dengan cara yang santun, beradab, dan penuh semangat kebersamaan. Ini contoh yang baik bagi masyarakat luas bahwa menyuarakan pendapat bisa dilakukan dengan damai dan bermartabat,” ujar Kompol I Gede Suartika.
Beliau juga menegaskan bahwa sikap terbuka dan komunikatif dari pihak yayasan telah menjadi kunci utama keberhasilan acara tersebut berjalan aman dan kondusif.
“Saya salut dengan kekompakan dan kedewasaan mereka. Kita boleh berbeda pandangan, tapi selama tujuannya untuk kebaikan bersama, Polri akan selalu membuka ruang dialog. Hari ini, Bondowoso menunjukkan bahwa kebersamaan lebih kuat dari perbedaan,” tambahnya dengan nada bangga.
Seluruh kegiatan berlangsung tertib dan kondusif tanpa insiden sedikit pun. Semua pihak saling menghormati dan menjaga semangat kekeluargaan.
Para peserta aksi yang awalnya tegang, perlahan merasa nyaman karena pendekatan humanis yang ditunjukkan oleh jajaran Polres Bondowoso di bawah komando Wakapolres Kompol I Gede Suartika.
Bahkan, beberapa perwakilan Laskar Jahanam sempat menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat Polres Bondowoso yang menempatkan mereka bukan sebagai lawan, tetapi sebagai mitra dialog dalam memperjuangkan keadilan sosial.
Kedekatan antara aparat kepolisian dan massa aksi tidak hanya dirasakan oleh peserta audiensi, tetapi juga oleh masyarakat yang menonton dari sekitar lokasi.
Banyak warga mengaku terharu dan kagum melihat bagaimana polisi dan pengunjuk rasa bisa berdiri berdampingan tanpa ketegangan sedikit pun.
“Awalnya kami khawatir, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang sering terlihat di media sosial,” ujar Sulastri (45), warga Kelurahan Dabasah yang menyaksikan langsung jalannya aksi.
“Tapi ternyata suasananya sangat damai. Saya salut dengan cara polisi, terutama Pak Wakapolres Kompol I Gede Suartika, yang begitu humanis dan dekat dengan masyarakat. Ini pemandangan langka di Bondowoso,” imbuhnya
Bagi warga, momen itu bukan sekadar unjuk rasa, melainkan pembelajaran tentang bagaimana dialog, rasa hormat, dan ketulusan bisa meredakan segala perbedaan.
Saat hujan mulai membasahi halaman Pengadilan Negeri Bondowoso, tak satu pun pihak beranjak. Kompol I Gede Suartika tetap berdiri di tengah massa, berbincang, menenangkan, bahkan menertawakan dinginnya hujan bersama mereka.
“Hujan bukan penghalang, justru menjadi saksi dari kebersamaan ini,” tutur beliau usai kegiatan.
Kegiatan diakhiri dengan jabat tangan dan pelukan hangat antara aparat dan masyarakat. Tidak ada jarak, tidak ada ketegangan — hanya rasa saling menghormati, saling memahami, dan rasa bangga bahwa Bondowoso mampu menunjukkan wajah damai dalam perbedaan.
Langit Bondowoso sore itu menjadi saksi bahwa kedamaian bisa tercipta bukan dengan kekuatan, tetapi dengan ketulusan.
Kehadiran Kompol I Gede Suartika bersama jajarannya membuktikan bahwa Polri mampu menjadi bagian dari masyarakat — bukan entitas yang berdiri di atasnya.
Dengan langkah sederhana dan hati yang besar, beliau mengajarkan makna sejati pengabdian: melayani dengan empati, mendengar dengan tulus, dan melindungi dengan cinta.
Momen itu tak hanya mencatat sejarah kecil di Bondowoso, tetapi juga mengirim pesan besar: bahwa Polri yang humanis benar-benar hidup, nyata, dan menginspirasi.
(Abad⁷⁷)



0Komentar