![]() |
| Letkol Inf. ugroseno : Di balik seragam dan tanggung jawab besar, ada pribadi yang membimbing, merangkul, dan menumbuhkan generasi penerus bangsa(Foto:Dok.Abadi) |
Nama Letkol Inf Ugroseno semakin mencuri perhatian masyarakat Bondowoso sejak mengemban amanah sebagai Komandan Batalyon Infanteri 514/Sabaddha Yudha Kostrad.
![]() |
| Langkah karier yang teruji dari Makostrad hingga Divif 2 Kostrad—perjalanan yang membentuk karakter pemimpin lapangan berintegritas tinggi (Foto:Dok.Abadi) |
Kepemimpinannya dipandang memberi warna baru di lingkungan satuan. Ia tak hanya fokus pada pembinaan tempur dan kesiapan operasional, tetapi juga memperkuat peran TNI sebagai pelindung dan sahabat rakyat. Sosoknya menggambarkan bahwa kedisiplinan militer dapat berjalan harmonis dengan nilai kemanusiaan.
"Pemimpin bukan sekadar berdiri di depan pasukan, tetapi hadir di tengah masyarakat saat dibutuhkan," demikian filosofi kepemimpinannya yang tercermin dari beragam kegiatan sosial dan kepekaannya terhadap lingkungan.
Latar Kehidupan dan Pondasi Karakter
Lahir di Malang, 20 Desember 1983, Letkol Inf Ugroseno tumbuh dalam keluarga dengan nilai kedisiplinan kuat. Pendidikan militernya ditempuh di Akademi Militer Magelang, menjadi landasan awal pembentukan karakter sebagai prajurit TNI AD.
Di balik kesibukannya, ia adalah sosok ayah dan kepala keluarga yang menempatkan keluarga sebagai sumber energi moral dalam mengemban tugas. Menikah pada tahun 2012, ia dikaruniai seorang putra yang menjadi penyemangat dalam setiap penugasan.
Awal Karier: Lulus Akmil 2006 dan Penugasan Kostrad
Perjalanan militernya dimulai setelah lulus Akmil tahun 2006 melalui Panda Malang. Ia masuk jajaran Kostrad dan ditempatkan di Divif 1 Kostrad, Cilodong, Depok, sebelum kemudian bertugas di Brigif 3 Kostrad Kariumpe, Maros, Sulawesi Selatan (2007–2008). Pengalaman lapangan pada fase ini membentuk mentalitas tempur dan ketangguhannya menghadapi medan berkarakter berat.
Pengabdian di Satuan Linud: Lebih dari 10 Tahun Mengasah Kapabilitas Tempur
Ia kemudian bertugas di Yonif Linud 432 dan Yonif Linud 433 Bantimurung. Di sinilah ia menjalani perjalanan kepangkatan dari Letda, Lettu, hingga Kapten dengan pengalaman operasi luas, termasuk penugasan di:
1. Papua
2. Wilayah rawan dan khusus
3. Kawasan Kalimantan
Setiap operasi bukan hanya pengalaman militer, tetapi juga pelajaran sosial dan kemanusiaan dalam menjaga stabilitas masyarakat.
Jabatan Strategis dan Pendidikan Lanjutan
Beberapa tonggak penting kariernya:
Tahun Penugasan / Jabatan / Lokasi
1. 2016 — Markas Kostrad, Gambir, Jakarta
2. 2018 — Pendidikan Diklapa, Bandung
3. Kasi 3 Personel Brigif 9 Kostrad, Jember
4. Pembina Taruna & Wadanyon Tingkat I, Akademi Militer
5. Staf Binkar Akmil Magelang (4 Tahun)
6. Pasca Seskoad — Kasi Kumtaltibprot & Kasi Binkar Divif 2 Kostrad, Singosari
Pengalaman tersebut memperluas pemahamannya bukan hanya sebagai komandan lapangan, tetapi juga pembina SDM dan perencana organisasi.
Komandan Yonif 514/SY: Amanah Besar, Tanggung Jawab Strategis
Setelah melalui asesmen jabatan, ia resmi menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri 514/SY Kostrad pada 28 Juni 2025. Tugas awalnya difokuskan pada:
1. Peningkatan kesiapan tempur,
2 Kesejahteraan prajurit,
3. Pembinaan keluarga besar satuan.
Di bawah kepemimpinannya, satuan ini juga mempersiapkan penugasan internasional sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL), sebuah mandat prestisius yang hanya diberikan kepada satuan terpilih.
Pemimpin Humanis, Tegas, dan Rendah Hati
Di Bondowoso, ia dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan silaturahmi lintas institusi. Program kemanusiaan, kolaborasi dengan masyarakat, dan sinergi TNI-Polri menjadi ciri khas kepemimpinannya.
Ia percaya bahwa kekuatan pasukan bukan hanya pada senjata, tetapi pada hati yang dekat dengan rakyat.
"TNI kuat karena bersama rakyat. Pengabdian tertinggi bukan hanya menjaga kedaulatan negara, tetapi hadir saat masyarakat membutuhkan."
Dari medan operasi hingga ruang strategis, dari Papua hingga markas Kostrad, dari pembinaan taruna hingga memimpin batalyon, perjalanan Letkol Inf Ugroseno adalah kisah pengabdian yang ditempa oleh pengalaman panjang, disiplin, dan kerendahan hati.
Sebagaimana pepatah mengatakan:
“Laksana padi makin berisi makin merunduk; kekuatan sejati bukan dari suara yang keras, melainkan dari sikap yang meneduhkan.”
Dan di pundaknya kini, pengabdian itu terus berlanjut, untuk negara, untuk masyarakat, dan untuk masa depan generasi prajurit Indonesia.
(Abad⁷⁷)


0Komentar