Semangat pelestarian budaya bangsa menggema dari Aula Yonif 514/SY, Desa Curahpoh, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso. Di tengah peringatan Hari Ulang Tahun ke-46 Perguruan Pencak Silat IKS-PI “Kera Sakti”, tersaji sebuah momentum bersejarah yang mempertemukan kekuatan tradisi leluhur dengan jiwa patriotisme prajurit TNI. Pencak silat tidak hanya dipertontonkan sebagai seni bela diri, tetapi ditegaskan sebagai identitas budaya bangsa yang sarat nilai moral, disiplin, dan persaudaraan.
Dalam rangkaian peringatan HUT ke-46 IKS-PI “Kera Sakti” Cabang Bondowoso yang digelar pada Kamis, 15 Januari 2026, Yonif 514/SY menjadi saksi penyematan tiga warga kehormatan Tingkat I, yakni Danyonif 514/SY Letkol Inf. Ugroseno, Komandan Seksi Mayonif 514/SY Sersan Kepala Miftahul Maghfiroh, serta Ba Ops Yonif 514/SY Sersan Satu Teguh. Ketiganya secara resmi menerima sabuk kehormatan sebagai simbol diterimanya mereka dalam keluarga besar perguruan silat yang berpusat di Madiun tersebut.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh unsur Forkopimka, tokoh IPSI, para pengurus dan pendekar IKS-PI dari Bondowoso, Jember, Situbondo, hingga perwakilan dari Banyuwangi. Rangkaian acara diisi dengan upacara, sambutan, penyematan sabuk, penyerahan cenderamata, pemotongan tumpeng, serta berbagai penampilan seni pencak silat, mulai dari seni tunggal, ganda, pedang, hingga toya, yang semakin menegaskan kekayaan budaya bela diri Nusantara.
Dalam sambutannya, Danyonif 514/SY Letkol Inf. Ugroseno menyampaikan apresiasi mendalam atas kehormatan yang diberikan kepadanya. Ia menegaskan bahwa pencak silat adalah jati diri bangsa yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
“Pencak silat bukan sekadar ilmu bela diri, melainkan sarana pembentukan karakter, disiplin, dan pengendalian diri. Di dalamnya terkandung nilai persaudaraan, hormat kepada guru, serta tanggung jawab moral untuk menggunakan kemampuan hanya demi kebenaran dan perlindungan, bukan untuk kesombongan apalagi kekerasan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa seorang pesilat sejati harus menjauhi sikap arogan, permusuhan, serta tindakan anarkis yang mencederai makna luhur pencak silat. “Ilmu yang tinggi harus dibarengi akhlak yang mulia. Pencak silat diciptakan untuk membela diri, menjaga kehormatan, dan mengayomi, bukan untuk mencari lawan atau menebar ketakutan,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Letkol Inf. Ugroseno mengungkapkan ketertarikannya yang mendalam terhadap seni dan budaya pencak silat. Menurutnya, nilai-nilai yang diajarkan dalam perguruan silat sejalan dengan pembinaan mental dan karakter prajurit. Bergabungnya ia sebagai warga kehormatan IKS-PI “Kera Sakti” menjadi wujud nyata komitmen untuk turut melestarikan dan mengembangkan budaya warisan leluhur tersebut.
“Saya merasa terhormat menjadi bagian dari keluarga besar IKS-PI Kera Sakti. Ini bukan sekadar penyematan sabuk, tetapi amanah untuk ikut menjaga marwah perguruan, merawat persaudaraan, serta menghidupkan nilai-nilai luhur pencak silat di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Cabang IKS-PI “Kera Sakti” Bondowoso, Yusuf Risman Hadi, menyampaikan bahwa usia 46 tahun merupakan tonggak kedewasaan bagi perguruan untuk terus memperkuat persatuan, menjaga nama baik organisasi, serta berkontribusi positif bagi keamanan dan ketertiban masyarakat.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan kondusif dengan pengamanan terpadu dari Polsek Curahdami bersama jajaran Polres Bondowoso, sebagai bentuk sinergi dalam menjaga situasi tetap tertib, sekaligus mengantisipasi euforia pasca acara.
Melalui momentum HUT ke-46 dan penyematan warga kehormatan ini, IKS-PI “Kera Sakti” bersama Yonif 514/SY meneguhkan satu pesan penting: pencak silat adalah mahkota budaya bangsa yang harus dijaga, dihormati, dan diwariskan dengan penuh tanggung jawab. Dari gelanggang hingga medan pengabdian, nilai-nilai ksatria, persaudaraan, dan cinta tanah air akan terus menyala, mengikat generasi hari ini dan esok dalam satu semangat: melestarikan warisan leluhur demi kejayaan Indonesia.
|Abad⁷⁷


0Komentar