Jember|masbhabinnews.com
Keberagaman Indonesia bukan sekedar semboyan, melainkan denyut kehidupan yang nyata dalam praktik sosial dan keagamaan masyarakatnya. Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, harmoni itu kembali terpatri melalui perayaan Piodalan umat Hindu yang digelar khidmat di Pura Wira Satya Dharma, Batalyon Infanteri 509 Balawara Yudha Kostrad, Selasa malam, 3 Maret 2026.
Upacara suci yang bertepatan dengan Selasa Purnama Sasih Kesanga tahun 2026 tersebut menjadi momentum spiritual yang mempertemukan umat Hindu dari berbagai latar belakang instansi, mulai dari TNI, Polri, hingga Pemerintah Daerah, dalam satu ikatan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.
Makna Piodalan dalam Tradisi Hindu
Piodalan, yang juga dikenal dengan sebutan odalan, pujawali, petoyan, atau petirtaan, merupakan bagian dari rangkaian upacara Dewa Yadnya. Ritual ini ditujukan sebagai bentuk persembahan dan penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa di pura atau tempat suci.
Secara etimologis, piodalan berasal dari kata wedal yang berarti keluar atau lahir. Dengan demikian, piodalan dimaknai sebagai peringatan hari lahir sebuah pura. Sebagaimana manusia merayakan ulang tahun, pura sebagai pusat spiritual umat Hindu pun memiliki hari suci kelahirannya yang diperingati secara berkala.
Penetapan hari piodalan didasarkan pada perhitungan sasih dalam kalender Saka yang berlangsung setahun sekali, serta sistem wuku dalam penanggalan Bali yang berulang setiap 210 hari. Setiap pura memiliki hari piodalan yang berbeda, sesuai perhitungan tersebut.
Khidmat dan Penuh Kebersamaan
Persembahyangan dipimpin oleh Pinandita Jro Mangku Bagus Suasana, berlangsung dalam suasana sakral dan penuh kekhusyukan. Hadir pula Ketua Parisada Hindu Dharma Kabupaten Jember, Dr I Nyoman Semita, yang turut memberikan dukungan moral dan spiritual.
Kebersamaan begitu terasa ketika umat Hindu dari berbagai instansi saling bahu membahu mempersiapkan hingga menyukseskan jalannya upacara. Tanpa mengenal lelah, mereka menunaikan tugas spiritual dengan tulus, menjadikan momen ini bukan sekedar ritual, tetapi juga ruang mempererat solidaritas.
Wahyu Widodo S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa piodalan merupakan wujud bhakti dan rasa syukur atas anugerah yang diberikan Ida Sang Hyang Widi Wasa.
“Kegiatan ini adalah bentuk bhakti kita kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa sekaligus ungkapan syukur atas segala karunia yang telah dilimpahkan. Terima kasih kepada seluruh umat Hindu di Jember yang telah membantu terselenggaranya upacara ini. Semoga apa yang kita lakukan senantiasa mendapat pencerahan,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagai umat Hindu, melaksanakan persembahyangan dengan tulus dan tanpa pamrih adalah kewajiban moral dan spiritual. Bhakti yang dijalankan dengan keikhlasan diharapkan mampu membentuk pribadi yang lebih baik dalam bersikap dan bertutur kata sesuai ajaran dharma.
Dukungan Yonif 509 Kostrad
Di tempat terpisah, Komandan Batalyon Infanteri 509 Balawara Yudha Kostrad, Letkol Inf Juni Fitriyan, S.H., M.H.I., turut menyampaikan ucapan selamat kepada umat Hindu di Kabupaten Jember, khususnya yang bertugas di lingkungan Yonif 509.
“Selamat merayakan Piodalan kepada seluruh rekan rekan umat Hindu. Semoga damai, terang, harmoni, dan kesejahteraan selalu menyertai kita semua. Rayakan hari suci ini dengan penuh rasa syukur,” tuturnya.
Perayaan Piodalan di lingkungan satuan TNI ini menjadi potret nyata toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman keyakinan di tubuh institusi negara.
Di tengah dinamika kehidupan modern, Piodalan di Pura Wira Satya Dharma menjadi pengingat bahwa spiritualitas dan kebersamaan adalah fondasi kokoh bangsa Indonesia. Dari ruang suci di lingkungan militer, pesan damai dan harmoni mengalir, menegaskan bahwa keberagaman bukan sekedar identitas, tetapi kekuatan yang menyatukan.
|Abadi ⁷⁷

0Komentar