TfG9GpriTfr5TUCiGSW5TfziTd==
Light Dark
Tak Menunggu Kaya untuk Berbagi, Gerakan Sosial STMJ di Bawah Abah Imam Alfatih Menggema di Bulan Ramadan

Tak Menunggu Kaya untuk Berbagi, Gerakan Sosial STMJ di Bawah Abah Imam Alfatih Menggema di Bulan Ramadan

Filosofi kebersamaan STMJ dirangkum dalam ungkapan Jawa yang kerap disampaikan AKP Imam Syafi'i, S.H., M.H., sosok polisi yang juga dikenal sebagai..
Daftar Isi
×


Surabaya|masbhabinnews.com

Semangat berbagi tanpa menunggu berkecukupan kembali ditunjukkan oleh komunitas alumni Pendidikan Pertama Bintara Prajurit Karier angkatan 1997/1998. Melalui wadah Seduluran Tanpa Memandang Jabatan atau STMJ, para alumni TNI dan Polri tersebut menegaskan bahwa kepedulian kepada sesama dapat dimulai dari langkah sederhana namun penuh ketulusan.

Aksi sosial itu terlihat dalam kegiatan pembagian takjil kepada masyarakat selama bulan suci Ramadan yang berlangsung pada Sabtu (14/3/2026). Di sejumlah titik strategis di Surabaya, para alumni tampak membagikan makanan berbuka kepada pengendara dan warga yang masih berada di perjalanan menjelang waktu magrib.

Gerakan kemanusiaan ini dimotori oleh sosok yang akrab disapa Abah Imam Alfatih. Kepemimpinannya mendapat banyak apresiasi karena dinilai mampu menjaga semangat persaudaraan sekaligus menggerakkan para alumni untuk terus menebar kebaikan di tengah masyarakat.

Keteladanan Abah Imam Alfatih tidak hanya terlihat dari perannya mengoordinasikan kegiatan, tetapi juga dari komitmennya merawat nilai kebersamaan yang telah terjalin puluhan tahun di antara para alumni. Dengan sikap rendah hati dan kepedulian tinggi terhadap sesama, ia menjadi penggerak yang menginspirasi banyak pihak untuk terus berbuat kebaikan.

Dalam kegiatan tersebut, takjil dibagikan di sejumlah lokasi strategis seperti jalan protokol, depan markas, serta area publik. Kehadiran para alumni di tengah masyarakat disambut antusias oleh pengendara dan warga yang melintas, terutama mereka yang masih berada di perjalanan saat waktu berbuka puasa tiba.

Komunitas STMJ sendiri dikenal sebagai wadah persaudaraan alumni TNI dan Polri angkatan 1997/1998 yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan tanpa memandang jabatan maupun latar belakang institusi. Semangat itu tercermin dari kolaborasi lintas matra yang terus terjaga hingga kini.

Melalui berbagai kegiatan sosial, STMJ juga memperlihatkan sinergi kuat antara unsur TNI dan Polri sebagai simbol pengabdian kepada masyarakat. Kebersamaan tersebut menjadi pesan penting bahwa aparat negara tetap hadir di tengah masyarakat tidak hanya dalam tugas keamanan, tetapi juga dalam aksi kemanusiaan.

Selain membagikan takjil, para alumni kerap mengombinasikan kegiatan dengan penyaluran bantuan sosial maupun santunan kepada anak yatim dan warga kurang mampu. Kegiatan serupa juga dilakukan di berbagai daerah di Indonesia oleh para alumni yang tersebar di sejumlah wilayah Polda dan Kodam.

Di lingkungan alumni, masing masing unsur memiliki sebutan khas yang mencerminkan identitas dan kebanggaan korps. Di antaranya DSD untuk Polri, Pandawa bagi TNI AD, Dgleen untuk TNI AL, serta Libas yang mewakili TNI AU.

Selama lebih dari 27 tahun pengabdian, para alumni angkatan 1997/1998 terus menjaga hubungan persaudaraan yang kuat. Ikatan tersebut tidak hanya menjadi penguat solidaritas internal, tetapi juga mendorong lahirnya berbagai kegiatan sosial yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Filosofi kebersamaan STMJ dirangkum dalam ungkapan Jawa yang kerap disampaikan AKP Imam Syafi'i, S.H., M.H., sosok polisi yang juga dikenal sebagai komposer lagu lagu ambyar. Ia sering menggaungkan pesan, “Ojo rumongso biso nanging biso rumongso amargo isek butuh tangane wong liyo,” yang mengingatkan bahwa setiap manusia tetap membutuhkan bantuan sesama.

Semangat persaudaraan, kepedulian, dan kerendahan hati yang dijaga para alumni STMJ menjadi bukti bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak mengenal batas waktu. Ketika kepedulian tumbuh dari hati, berbagi tidak perlu menunggu kaya


|Abad⁷⁷

0Komentar

Special Ads