BONDOWOSO|masbhabinnews.com
Di tengah derasnya arus informasi yang bergerak tanpa batas, persatuan bangsa menghadapi tantangan yang tidak selalu terlihat. Perbedaan yang seharusnya menjadi kekuatan dapat berubah menjadi sumber perpecahan ketika ruang digital dipenuhi provokasi, kabar palsu, ujaran kebencian, dan narasi yang memecah belah.
Menyikapi kondisi tersebut, Kapolres Bondowoso AKBP Dr. Aryo Dwi Wibowo, S.H., S.I.K., M.M., mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat semangat kebhinnekaan melalui Focus Group Discussion (FGD) bertema “Merawat Bhinneka Tunggal Ika Memperkuat Persatuan Bangsa di Tengah Polarisasi dan Ruang Digital”.
Kegiatan berlangsung di Aula Polres Bondowoso, Jumat (14/8/2026) pukul 13.00 WIB. Forum tersebut menjadi ruang bertemunya pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, serta berbagai elemen masyarakat untuk membahas tantangan persatuan di tengah perkembangan teknologi digital.
Hadir dalam kegiatan tersebut Dandim 0822 Bondowoso Letkol Inf Prawito, Kajari Bondowoso Dr. David Palapa Duarsa, S.H., M.H., Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso Imam Khalid Andy Wijaya, S.T., Asisten 1 Pemkab Bondowoso Solikin, S.H., M.Si., Ketua GP Ansor Fathor Rozi, Ketua IPSI Kabupaten Bondowoso Sunargi, serta Ketua DPC Grib Jaya Bondowoso Joni AP.
Rangkaian FGD berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan keseriusan. Kegiatan diawali dengan pembukaan dan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan, pemaparan materi, diskusi kelompok, doa, serta foto bersama.
Kapolres Aryo: Ruang Digital Harus Menjadi Perekat Persatuan
Kapolres Bondowoso AKBP Aryo Dwi Wibowo menegaskan bahwa perkembangan teknologi membawa manfaat besar bagi masyarakat, tetapi juga menghadirkan tantangan baru apabila tidak diiringi kecerdasan dan tanggung jawab dalam menggunakannya.
Menurutnya, masyarakat perlu memiliki kemampuan memilah informasi agar tidak mudah terseret arus provokasi maupun informasi yang belum terbukti kebenarannya.
“Ruang digital jangan sampai menjadi tempat tumbuhnya perpecahan. Perbedaan pendapat merupakan bagian dari demokrasi, tetapi persatuan harus tetap menjadi pijakan bersama. Mari gunakan teknologi untuk menyebarkan kebaikan, memperkuat persaudaraan, dan menjaga Bondowoso tetap damai,” tegas Aryo kepada awak media masbhabinnews.
Ia menambahkan, menjaga keamanan bukan hanya menjadi tugas aparat. Dibutuhkan keterlibatan pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, komunitas, hingga masyarakat pengguna media sosial.
“Keamanan dan persatuan tidak lahir dari satu institusi. Keduanya tumbuh dari kesadaran bersama. Ketika pemerintah, TNI Polri, tokoh masyarakat, pemuda, dan seluruh warga bergerak dalam satu semangat, maka setiap potensi perpecahan dapat kita cegah sejak dini,” ujarnya.
Kapolres juga menyatakan Polres Bondowoso akan mendorong edukasi mengenai etika bermedia sosial, termasuk melalui penyuluhan langsung ke sekolah sekolah.
Pemerintah dan DPRD Dorong Sinergi Lintas Elemen
Asisten 1 Pemkab Bondowoso Solikin menyampaikan permohonan maaf Bupati Bondowoso yang tidak dapat menghadiri kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi langkah Polres Bondowoso yang mempertemukan berbagai unsur dalam satu forum.
Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga keamanan dan keharmonisan masyarakat.
“Sinergi seluruh elemen sangat dibutuhkan untuk mewujudkan Bondowoso yang aman dan kondusif. Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan, bukan justru menjadi sarana yang menimbulkan perpecahan,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Bondowoso Imam Khalid Andy Wijaya menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan bangsa yang harus dirawat bersama.
“Perbedaan adalah kekuatan, bukan alasan untuk terpecah. Pancasila dan supremasi hukum harus menjadi landasan dalam menghadapi perkembangan zaman agar persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap kokoh,” ujarnya.
Kajari Ingatkan Etika Penggunaan Kecerdasan Buatan
Kajari Bondowoso Dr. David Palapa Duarsa mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak hanya memberikan kemudahan, tetapi juga membuka peluang terjadinya pelanggaran hukum.
Ia secara khusus menyoroti penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence yang kini semakin mudah diakses masyarakat.
“Teknologi harus digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Termasuk kecerdasan buatan, jangan sampai dimanfaatkan untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum. Kesadaran hukum masyarakat harus terus diperkuat seiring perkembangan teknologi,” tegasnya.
Dandim 0822 Bondowoso Letkol Inf Prawito juga mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kolaborasi menghadapi perkembangan zaman.
Menurutnya, penyalahgunaan teknologi dapat berkembang menjadi persoalan keamanan apabila tidak diantisipasi bersama.
“Kolaborasi nyata menjadi kunci. Kita harus bersatu menghadapi setiap potensi kerawanan agar Bondowoso tetap aman, damai, dan harmonis,” ucapnya.
Muncul Gagasan Kurikulum Etika Digital hingga Sekolah
Diskusi semakin hidup ketika sejumlah perwakilan organisasi masyarakat menyampaikan gagasan dan aspirasi.
Ketua IPSI Bondowoso Sunargi mengusulkan agar ekstrakurikuler pencak silat dapat diterapkan secara lebih luas di sekolah sekolah di Kabupaten Bondowoso.
Ia menilai pencak silat bukan hanya olahraga bela diri, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai kedisiplinan, persaudaraan, dan persatuan.
Sementara Ketua PC GP Ansor Bondowoso Fathor Rozi mendorong aparat dan berbagai elemen terkait meningkatkan edukasi mengenai etika bermedia sosial. Ia juga mengajak media lokal berperan dalam menyaring serta menyajikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketua DPC Grib Jaya Bondowoso Joni AP mengusulkan adanya kurikulum etika digital sejak jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Ia juga mendorong pengembangan sistem teknologi yang tetap mengacu pada ketentuan peraturan perundang undangan.
Menanggapi berbagai usulan tersebut, Asisten 1 Pemkab Bondowoso Solikin menyampaikan bahwa sejumlah sekolah telah memiliki kegiatan ekstrakurikuler bela diri, meski masih menghadapi kendala sarana dan prasarana.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso juga membuka ruang pembahasan lebih lanjut mengenai regulasi dan edukasi etika bermedia sosial.
Wakil Ketua DPRD Bondowoso menyatakan siap menampung aspirasi tersebut dan meneruskannya melalui jalur kelembagaan.
Kapolres Bondowoso juga berkomitmen mendorong pembahasan berbagai gagasan yang muncul dalam FGD, termasuk memperluas penyuluhan mengenai penggunaan media sosial secara bijak kepada kalangan pelajar.
Sepakat Redam Polarisasi di Ruang Siber
FGD tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk memetakan sekaligus meredam potensi polarisasi di ruang siber. Para peserta sepakat memperkuat langkah pencegahan terhadap narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan.
Selain itu, forum tersebut mempertegas pentingnya kerja sama antara pemerintah, aparat keamanan, organisasi masyarakat, pemuda, serta seluruh elemen sipil dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban di Kabupaten Bondowoso.
Bagi Kapolres Aryo, menjaga Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya tentang menerima perbedaan, tetapi juga memastikan perbedaan tersebut tidak berubah menjadi alasan untuk saling menjauh.
“Persatuan harus kita rawat sebelum perpecahan terjadi. Jangan biarkan perbedaan menjadi jarak, dan jangan biarkan ruang digital menjadi tempat tumbuhnya kebencian. Bondowoso memiliki kekuatan besar karena masyarakatnya beragam. Tugas kita adalah menjadikan keberagaman itu sebagai energi untuk membangun, bukan alasan untuk saling menjatuhkan,” pungkas
|msb

Tidak ada komentar
Posting Komentar