Ratu Kahuripan Djenggala Maria Eva Satukan Pesan Budaya, Spiritual dan Persaudaraan di Sidoarjo

Tidak ada komentar

SIDOARJO | masbhabinnews.com

Di tengah keberagaman masyarakat yang terus berkembang, menjaga kerukunan membutuhkan keteladanan, ruang perjumpaan, serta kesediaan untuk merawat persaudaraan. Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan Ruwatan dan Doa Bersama Lintas Agama di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Kegiatan ini mempertemukan tokoh agama, tokoh spiritual, budayawan, seniman, serta berbagai elemen masyarakat dalam suasana kebersamaan. Mereka menyatukan harapan melalui doa untuk keselamatan, kedamaian, kerukunan, kesehatan, dan kesejahteraan seluruh masyarakat Sidoarjo.

Dalam momentum tersebut, Yang Mulia Kanjeng Ratu Hj. Maria Eva, S.E., M.M., Ratu Kahuripan Djenggala, hadir sebagai bagian dari ikhtiar batin untuk memanjatkan doa bagi keselamatan dan keharmonisan Kabupaten Sidoarjo.

Kehadiran Maria Eva turut memberikan dimensi budaya dan spiritual yang kuat. Selain mengemban kedudukan sebagai Ratu Kahuripan Djenggala, Maria Eva juga dipercaya menjalankan amanah sebagai Dewan Agung Spiritual Majelis Adat Indonesia (MAI).

Posisi tersebut semakin memperkuat perannya dalam mengangkat nilai luhur Nusantara, terutama mengenai persaudaraan, toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, gotong royong, serta keseimbangan kehidupan bermasyarakat.

Ruwatan Menjadi Ruang Refleksi dan Ikhtiar Batin

Ruwatan dalam kegiatan tersebut dimaknai sebagai bagian dari ikhtiar batin untuk memohon keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam perspektif budaya Nusantara, ruwatan memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan penyucian diri, refleksi, introspeksi, serta doa agar manusia dan lingkungan kehidupannya senantiasa dijauhkan dari berbagai hal yang tidak baik.

Lebih dari sekedar tradisi budaya, kegiatan tersebut membawa pesan sosial mengenai pentingnya membangun kesadaran bersama untuk menjaga ketenteraman dan keselamatan daerah.

Doa yang dipanjatkan menjadi ungkapan harapan agar Kabupaten Sidoarjo senantiasa mendapatkan perlindungan, kedamaian, keberkahan, kesehatan, serta kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Ikhtiar batin tersebut juga menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan kemajuan secara fisik, tetapi juga memerlukan kekuatan moral, spiritual, dan sosial yang tumbuh dari masyarakat.

Lintas Agama, Lintas Budaya, Satu Semangat Persaudaraan

Kegiatan tersebut dihadiri para kyai, ustadz, tokoh agama, tokoh spiritual, budayawan, seniman, serta berbagai elemen masyarakat dari Kabupaten Sidoarjo.

Pertemuan lintas latar belakang itu memperlihatkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan ketika dipertemukan melalui nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap lingkungan bersama.

Kebersamaan tersebut tidak dimaksudkan untuk mencampuradukkan keyakinan. Sebaliknya, kegiatan menjadi ruang untuk meneguhkan sikap saling menghormati, menjaga toleransi, mempererat persaudaraan, serta bersama sama mendoakan kebaikan bagi daerah.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Kerukunan tidak cukup hanya disampaikan melalui kata kata, tetapi harus diwujudkan melalui sikap, perilaku, dan keteladanan dalam kehidupan sehari hari.

Maria Eva, Sosok yang Menjunjung Tinggi Budaya dan Bhinneka Tunggal Ika

Maria Eva mendapat apresiasi sebagai sosok yang memiliki perhatian kuat terhadap pelestarian budaya dan nilai luhur Nusantara.

Sebagai Ratu Kahuripan Djenggala sekaligus Dewan Agung Spiritual Majelis Adat Indonesia, Maria Eva menempatkan kebudayaan bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai fondasi moral yang dapat memperkuat kehidupan masyarakat di masa kini dan masa mendatang.

Sikap tersebut tercermin melalui komitmennya dalam mengedepankan nilai Bhinneka Tunggal Ika. Baginya, perbedaan agama, budaya, tradisi, maupun latar belakang sosial tidak semestinya menjadi sekat yang memisahkan persaudaraan.

Justru keberagaman merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga dengan kebijaksanaan.

Nilai guyup, gotong royong, saling menghormati, toleransi, kepedulian terhadap sesama, serta penghargaan terhadap tradisi menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang harmonis.

Pandangan tersebut menjadikan Maria Eva tidak hanya hadir dalam kapasitas simbolik, tetapi juga membawa pesan kebudayaan yang kuat mengenai pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Maria Eva: Budaya Harus Menjadi Kekuatan Pemersatu

Kepada awak media Masbhabinnews, Maria Eva menyampaikan bahwa kebudayaan memiliki posisi penting dalam membangun karakter masyarakat sekaligus memperkuat persatuan bangsa.

“Budaya mengajarkan kita untuk mengenal jati diri sekaligus menghormati keberadaan orang lain. Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan, tetapi nilai yang harus diwujudkan dalam kehidupan. Kita boleh berbeda dalam keyakinan, tradisi maupun latar belakang, tetapi persaudaraan dan kemanusiaan harus tetap menjadi titik temu,” ujar Maria Eva.

Menurutnya, kemajuan zaman harus berjalan beriringan dengan pelestarian nilai luhur bangsa. Modernisasi tidak seharusnya membuat masyarakat kehilangan akar budaya dan identitas Nusantara.

“Warisan leluhur harus kita rawat dengan cara yang arif. Nilai luhur seperti guyup, gotong royong, saling menghormati dan menjaga keharmonisan merupakan kekuatan sosial yang sangat penting bagi Indonesia,” tuturnya.

Maria Eva juga menilai generasi muda memiliki peran strategis dalam meneruskan warisan budaya kepada generasi berikutnya.

Budaya, menurutnya, harus dipahami sebagai sumber nilai yang mampu membentuk karakter, memperkuat solidaritas, sekaligus menjadi jembatan komunikasi antarkelompok dalam kehidupan bermasyarakat.

Menjaga Warisan Luhur Nusantara

Kehadiran Maria Eva dalam kegiatan ruwatan dan doa bersama menjadi bagian dari upaya merefleksikan kembali nilai luhur Nusantara yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Tradisi rukun, guyup, gotong royong, saling menghormati, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama merupakan kekayaan sosial yang perlu terus dipelihara.

Dalam konteks tersebut, ruwatan dan doa bersama menjadi jembatan antara tradisi, spiritualitas, kebudayaan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Ikhtiar batin diharapkan berjalan beriringan dengan ikhtiar lahiriah yang dilakukan pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta seluruh elemen masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, aman, dan sejahtera.

Sidoarjo dalam Semangat Guyup, Rahayu dan Kertaraharja

Seluruh rangkaian kegiatan bermuara pada satu harapan besar agar Kabupaten Sidoarjo senantiasa berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa serta tumbuh sebagai daerah yang rukun, guyup, rahayu, dan kertaraharja.

Kehadiran Maria Eva menegaskan bahwa menjaga kedamaian bukanlah tanggung jawab satu kelompok atau golongan. Kerukunan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan ketulusan, penghormatan terhadap perbedaan, serta komitmen untuk menjaga persaudaraan.

Pesan tersebut menjadi semakin bermakna karena kebudayaan Nusantara pada dasarnya memiliki kekuatan besar untuk mempertemukan manusia dalam nilai kemanusiaan.

Dari Sidoarjo, semangat kebersamaan kembali diteguhkan. Berbeda dalam keyakinan tetap bersaudara dalam kemanusiaan, berbeda dalam budaya tetap bersatu dalam menjaga Indonesia.

Ruwatan dan doa bersama akhirnya bukan hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga refleksi tentang bagaimana masyarakat dapat menjaga harmoni di tengah keberagaman.

Ketika budaya dirawat, toleransi dijunjung, dan persaudaraan ditempatkan di atas kepentingan kelompok, maka Bhinneka Tunggal Ika tidak berhenti sebagai semboyan. Nilai tersebut hadir sebagai napas kehidupan yang menjaga Indonesia tetap bersatu, beradab, dan bermartabat.

Maria Eva dan semangat budaya Nusantara memberikan pesan bahwa kedamaian tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan untuk menerima perbedaan dan menjadikannya kekuatan bersama.


|msb

Tidak ada komentar

Posting Komentar