TfG9GpriTfr5TUCiGSW5TfziTd==
Light Dark
Ramadan Menguatkan Kepedulian, Jurnalis Lamongan Erna Yuni Buktikan Berbagi Tak Harus Menunggu Kaya

Ramadan Menguatkan Kepedulian, Jurnalis Lamongan Erna Yuni Buktikan Berbagi Tak Harus Menunggu Kaya

Ketulusan Erna Yuni menguatkan makna Ramadan. Jurnalis asal Lamongan ini membuktikan bahwa kebaikan dapat dimulai dari langkah kecil yang tulus
Daftar Isi
×

Bondowoso|masbhabinnews.com

Ramadan selalu menghadirkan kisah kisah kemanusiaan yang menghangatkan hati. Di tengah bulan penuh berkah ini, seorang jurnalis perempuan asal Lamongan menunjukkan bahwa kepedulian kepada sesama tidak harus menunggu kelimpahan harta. Ketulusan justru lahir dari hati yang peka terhadap penderitaan orang lain.

Ramadan menjadi saksi ketulusan Erna Yuni saat menyerahkan bantuan sembako kepada warga yang hidup dalam keterbatasan (Foto:Dok.Abadi)
Sosok tersebut adalah Erna Yuni, jurnalis yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Selain menjalankan profesinya sebagai wartawan, ia juga menjalani peran sebagai ibu, istri, relawan sosial, sekaligus pengusaha. Bagi Erna, berbagi bukan sekedar aktivitas sosial, melainkan bagian dari nilai hidup yang terus ia pegang.

Kesederhanaan menjadi prinsip yang dijaga dalam kehidupan keluarganya. Ia meyakini bahwa hidup sederhana bukan berarti kekurangan, melainkan bentuk rasa syukur atas setiap nikmat yang diberikan Tuhan.

Semangat berbagi itu kembali diwujudkan pada Jumat penuh berkah, 6 Maret 2026. Bersama sejumlah rekan jurnalis dan aktivis lembaga swadaya masyarakat, Erna menyalurkan bantuan sembako serta santunan kepada dua nenek lanjut usia yang hidup dalam kondisi memprihatinkan di wilayah Pujer Baru, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso.

Kedua lansia tersebut diketahui menjalani hari hari mereka dengan penuh keterbatasan hingga terpaksa beristirahat di sebuah kandang hewan. Kondisi itu menggugah kepedulian Erna dan rekan rekannya untuk segera turun tangan memberikan bantuan.

“Indahnya berbagi bagi saya tidak harus menunggu kaya terlebih dahulu. Apa yang bisa kita berikan, sekecil apa pun, sangat berarti bagi orang yang membutuhkan,” ujar Erna.

Ia menuturkan bahwa dirinya tidak pernah secara khusus mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan. Baginya, memberi teladan melalui tindakan nyata jauh lebih bermakna daripada sekedar ajakan.

Menurut Erna, berbagi dapat dimulai dari hal paling sederhana dalam kehidupan sehari hari.

“Kalau kita menunggu kaya, kapan kita bisa berbagi. Jika hidup kita sederhana pun kita tetap bisa membantu. Misalnya ada satu piring nasi, setengah diberikan kepada orang lain dan setengahnya untuk kita sendiri. Itu sudah menjadi makna berbagi yang indah,” tuturnya.

Kepedulian itu juga ia tunjukkan ketika mendengar kabar tentang bencana atau masyarakat yang sedang mengalami kesulitan. Tanpa menunggu instruksi atau prosedur panjang, ia memilih bergerak cepat menggalang bantuan.

“Ketika ada kabar bencana atau orang yang membutuhkan bantuan, saya biasanya langsung bergerak. Menghubungi teman teman, mengumpulkan bantuan, bahkan secara pribadi saya memberikan apa yang bisa saya bantu,” ucapnya dengan penuh semangat

Menurutnya, Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk menumbuhkan empati dan memperkuat solidaritas sosial. Bulan suci ini mengajarkan bahwa keberkahan hidup tidak selalu diukur dari banyaknya harta, melainkan dari ketulusan hati dalam membantu sesama.

Kisah yang ditunjukkan Erna Yuni menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus menunggu sempurna. Dari langkah kecil yang dilakukan dengan niat tulus, harapan dapat tumbuh bagi mereka yang tengah berjuang dalam keterbatasan.

Di bulan Ramadan yang penuh rahmat ini, ketulusan seperti yang ditunjukkan Erna menjadi bukti bahwa berbagi dapat dilakukan oleh siapa saja. Tidak harus menunggu kaya, tidak harus menunggu berlebih, karena pada akhirnya keindahan berbagi lahir dari hati yang peduli.


|Abadi⁷⁷


0Komentar

Special Ads